Kurasu no Daikiraina Joshi to Kekkon Suru Koto ni Natta Volume 2 - Chapter 1 (Part 2)

 

Chapter 1 - Masakan Rumahan (Part 2)

Istirahat makan siang.

Ketika Saito membuka kotak bentou di mejanya, Shisei berlari ke arahnya.

“Ani-kun, aku sangat lapar. Beri aku semua bentou itu."

“Kamu tiba-tiba memberikan permintaan yang mengerikan, tahu.”

Shisei mengangguk saat Saito terkejut.

“Aku tidak memiliki keraguan sama sekali.”

"Kamu sendiri tahu itu!."

"Dan aku juga tidak memiliki rasa bersalah."

"Kamu sendiri juga tahu hal itu!"

Saito meraih tangan Shisei yang mencoba mencuri telur gorengnya, dia/(Saito) mencoba menjauhkannya agar dia tidak mendekati kotak bentou.

Dua binatang buas sedang bertarung. Dan ini adalah medan perang.

“Kalau terus begini, Shise akan mati kelaparan. Sudah menjadi kewajiban untuk menyediakan makanan pada adikmu.”

"Mengapa kamu bisa mati kelaparan karena hal ini, dan apakah kamu sarapan tadi pagi!"

“Aku makan tiga porsi penuh nasi.”

"Lihat, kamu makan lebih banyak dariku."

"Hal itu berbeda dari yang ini."

“Apa-apaan~! Kamu juga membawa bentou dari rumah, kan?”

Bahkan orang tua Shisei memahami nafsu makannya yang luar biasa. Untuk mencegah Shisei dibujuk dengan makanan oleh orang asing, mereka harus menyiapkan makanan yang layak untuknya.

“Aku membawanya bersamaku. Namun, apa yang ingin Shise coba adalah bentou m-m-muguu."

Saito menggunakan telapak tangannya untuk menutupi mulutnya yang hendak mengatakan 'Bentou Cinta*', lalu dia mengunci tubuh Shisei dari belakang.

[Note : *bento buat suami dari istri]

Shisei duduk di pangkuan Saito, terlihat puas sambil mengeluarkan suara ‘huff~’ dar hidungnya.

Saito berbisik ke telinga Shisei.

"Sudah kubilang jangan katakan itu!"

"Tentang apa?. Ingatan Shise buruk."

"Memotong angin*......"

[Note : *pembohong]

Sebagai anggota keluarga Houjou, akal Shisei benar-benar tidak tertandingi.

Biasanya, nilai tes matematikanya sempurna, dan hanya butuh 5 menit untuk mengerjakan tesnya, tetapi dia menyelesaikan semuanya dan kemudian tertidur. Tidak apa-apa untuk mengatakannya sebagai tidur siang, Saito sendiri juga bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika sudah selesai, jadi dia sering makan kue nanas ketika tes sedang berlangsung.

Duduk di pangkuannya dan menghadap ke arah Saito, Shisei mengepalkan tinjunya dan menempelkan kepalan tangannya di dekat mulutnya/(Shisei)

Dengan matanya yang berkilauan seperti permata, dia membisikkan kalimat memikat yang sangat imut.

“O, ni, i, chan… Shise, mau makan nasi itu.”

Ini adalah pose menggoda dengan memakai seluruh tubuhnya.

“Ku~……”

Bahkan orang yang sudah terbiasa dengan kecantikan Shisei yang berbeda dari manusia lainnya, Saito sendiri juga tercengang/(terpikat) karena hal ini.

Dimana teman sekelas yang tidak memiliki daya tahan untuk menghadapi Shisei, moral mereka runtuh dalam seketika.

“Shisei-chan, sungguh menyedihkan~!” “Beri dia makanan~” “Berikan saja semuanya!” "Saito-kun adalah penjaga binatang yang tidak manusiawi, hanya berani memonopolinya sendirian!"

Terlepas dari pria atau wanita, dia menerima celaan dari seluruh kelas.

Saito tidak bisa menjelaskan mengapa hanya melindungi kotak bentounya saja harus menerima penghinaan sejauh ini. Dia bahkan lebih kesal ketika Shisei membuat tanda V di tempat di mana orang lain tidak bisa melihatnya.

Biasanya, Saito tidak akan keberatan berbagi makanan dengan Shisei, tapi pada akhirnya ini adalah bentou yang Akane buat khusus untuk Saito.

Selain itu, Akane sedang duduk di tempatnya dan terkadang sekilas melirik ke tempat Saito.

Jika Saito memberikan kotak makan siang yang dia buat untuk Shisei, dia tidak akan tahu perang seperti apa yang akan terjadi setelah dia pulang kerumah. Dia hanya ingin menikmati suasana yang damai di rumah.

"Baiklah...... Hanya satu saja, oke......"

'Oke?'~ adalah kedipan yang dia kirim ke arah Akane untuk meminta izinnya, tetapi dia hanya memiringkan kepalanya dalam kebingungan. Tidak ada tanda-tanda komunikasi sama sekali. Dan juga, pasangan yang tidak memiliki simpati sama sekali.

Sementara Saito sedang merenung, Himari melihat ke kotak bento-nya.

“A~re? Kotak bentou Saito-kun……Bukankah itu sama dengan milik Akane?"

“…!?”

Baik Saito maupun Akane membeku di tempat.

Saito merasakan konstraksi di pipinya saat dia mencoba untuk tetap terlihat tenang.

“Apa yang kamu katakan? Apa, apakah ada hal seperti itu… Apa kamu berhalusinasi? Itu hanyalah fatamorgana yang bisa dilihat di padang pasir."

“Aku tidak salah~. Susunan hidangan atau ukuran di dalam kotak bentou berbeda, tetapi makanan yang ada di dalamnya semuanya sama?”

Himari meletakkan kedua tangannya di meja Saito dan menatap kotak bentou tersebut.

Teman-teman sekelas mereka berbisik riuh.

"Betulkah!" “Himarin sangat keren~!” "Jadi apa artinya itu?" "Mungkinkah itu hidangan yang dibuat oleh Sakuramori-san?" “Pasti mereka berdua sudah berkencan, bukan?”

Ditusuk oleh tatapan banyak orang, Akane tersipu dan berteriak.

"k, kkk kita tidak berkencan!"

"Apakah begitu? Namun, wajahmu menjadi merah padam, bukan?"

Himari merasa aneh. Para pengamat kelas juga menjadi semakin riuh.

"Wajahku sudah seperti ini sejak lahir!"

“Bukankah kamu sakit jika wajahmu benar-benar merah sejak lahir!? Ngomong-ngomong, kamu tidak selalu semerah itu!"

“A, aku baru saja bermandikan darah......aku......melakukan kejahatan........”

“Akui kejahatanmu, dan aku akan mengikutimu!? Jika kamu mengakuinya sekarang, kejahatannya akan lebih ringan!”

Himari menggenggam tangan Akane dan membujuknya.

Itu adalah bukti persahabaan mereka......Saito sekali lagi berpikir begitu, tapi ini bukan waktunya untuk mengaguminya. Ketika Akane terpojok, dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan ketika dia sedang gelisah.

"Singkatnya! Kita! Tidak! Berkencan satu sama lain!"

Akane membanting tangannya di atas meja untuk memastikan.

"Ah,ah. Itu tidak salah."

Saito juga berkata agar hal itu terdengar pasti.

—Meskipun kita sudah menikah

Di antara mereka berdua tidak ada nuansa cinta, atau sedikit pun rasa bersalah.

Bahkan tidak ada hubungan seks, dan juga mereka tidak ada niatan baik untuk melakukan hal itu.

Namun, keduanya baru saja menikah.

“Tapi~, itu aneh~” “Houjou dan Sakuramori, dari awal terlihat seperti suami istri~” “Bentou yang mirip adalah buktinya~”

Teman sekelas mereka masih mengejar isu tersebut tanpa henti.

“Ap, ini karena……”

Orang dengan Otak No. 1 di kelas, Saito, hendak membuat argumen besar ketika dia menyadari hal kecil yang sangat mengerikan.

Dia mencoba melihat ke dalam kotak makan siang, yang sekarang kosong.

Duduk di pangkuan Saito, pipi Shisei menonjol seperti tupai saat mulutnya bergerak mengunyah makanan.

Saito yakin bahwa pelakunya masih belum pergi jauh.

"Aku menyuruhmu makan satu saja!"

“Mogyugyu~? Mogyugyumogyugyu~”

"Perilaku yang sangat buruk, berhenti makan dan kemudian bicara!"

“Mogyu……”

Shisei mengunyah banyak makanan di mulutnya, lalu menyesap teh dari botol air Saito dan menghembuskan nafas ‘Puha~.’

"Aku memakan semuanya dalam satu kunyahan."

"Apakah kamu monster!"

"Aku tidak menyangkal bahwa keberadaanku di luar pemahaman manusia."

"Sungguh……"

Konon, ketika dia mencapai usia dimana dia sudah sepenuhnya sadar dan berpikir, Saito tahu bahwa dia hanyalah seorang manusia yang tumbuh bersamanya.

Shisei berbisik pada Saito.

“Aku ingin kamu berterima kasih padaku. Demi Ani-kun, aku telah menghapus semua bukti yang ada."

"Serius……?"

“Itu bohong. Aku hanya ingin makan saja.”

"Aku sudah mengetahuinya."

Karena dia benar dalam hal ‘menyelamatkan dirinya’, Saito menepuk kepala Shisei.

Setelah Saito dan Akane menyelesaikan makan siang mereka, mereka berdua berlari ke ruang kelas yang kosong, menghindari perhatian teman sekelas mereka.

Pertemuan darurat yang hanya dilakukan oleh dua orang. Jika kamu tidak membuat rencana untuk menghadapinya nanti, kehidupan sekolahmu akan dalam bahaya.

Akane meletakkan sikunya di meja guru dan memegangi kepalanya.

“Sungguh hal yang ceroboh...... Hanya untuk memastikan, aku mengubah tatanan hidangannya, tapi dia masih memperhatikannya...... Himari memiliki intuisi yang sangat bagus...... ”

"Dia sangat pintar. Memang benar tinta yang mendekati hitam, itu berdekatan dengan ‘kutu buku’ yaitu sisi cerah Akane."

"Jangan panggil aku kutu buku."

Akane memprotes sambil menangis.

"Pertama-tama, akan buruk untuk mengungkapkan fakta bahwa kita hidup bersama."

“Jika pernikahan itu terungkap, itu akan menjadi masalah besar. Aku tidak tahu apa catatan dari keputusan hakim nantinya."

"Bukannya hubungan antara pria dan wanita itu tidak pantas disini, jika kamu menjelaskan situasi keluarga kita, mungkin sekolah dapat memutuskan bagaimana memperlakukan kita..."

Akane membenturkan dahinya ke meja guru.

"Tidak bisa! Mungkin saja kita akan dikeluarkan karena dikatakan sebagai contoh yang buruk bagi siswa lain! Aku tidak bisa memaafkan harga diriku, jika mereka tahu pernikahan kita."

"Jangan mengatakan hal-hal mengerikan seperti itu."

Kata-katanya sedikit melukai Kebanggaan Saito.

"Tentang bagian dalam kotak bentou, katakanlah itu karena kita menggunakan produk beku yang sama."

"Terlalu samar."

Akane cemberut.

"Apakah ada alasan lain?"

"Bukankah lebih baik mengatakan bahwa Saito mendobrak masuk ke rumahku dan mencuri kotak bentoku?"

"Tidak bagus. Aku hanya akan ditangkap.”

“Anggap saja hal itu sebagai naluri manusia”

“Astaga. Sangat menyusahkan ketika memiliki catatan kriminal, dan bahkan mungkin saja aku akan dikeluarkan dari sekolah."

Tetapi untuk melakukan kejahatan seperti itu, sebaliknya hal itu tidak tekesan jahat, malahan hal itu hanya terkesan memalukan.

"Kalau begitu, Saito dan aku bersekolah di sekolah memasak yang sama...... bagaimana?"

"Sekolah macam apa itu, aku sendiri bahkan tidak bisa memasak hidangan formal seperti itu."

“Sekolah Sakuramori Akane!”

“Itu hanya mengungkapkan namamu! Rasanya seperti aku belajar memasak langsung darimu”

Mata Akane bersinar.

“Kamu adalah muridku……Itu berarti kamu di bawahku……Tidak apa-apa!”

"Apa maksudmu?, Jangan biarkan kekuasaan membutakanmu dan melupakan tujuan kita."

Pertama-tama, alasannya adalah bahwa semakin sederhana sesuatu, semakin kecil kemungkinannya untuk dapat disalahkan/(dicurigai). Bertindak kaku hanya akan membuat segalanya semakin rumit.

"Selain itu, aku akan makan siang di kantin sekolah untuk saat ini."

"Maksudmu kamu tidak bisa memakan bentouku!?"

Suasana hatinya mungkin saja sekarang terlihat seperti ini 'Tidak bisakah aku minum!'.

“Setelah hari ini, pasti akan ada orang yang mengetahui bentou kita. Dua atau tiga kali jika makanannya sama, mereka tidak akan bisa benar-benar tertipu."

"Kalau begitu aku bisa mencampur kotak bento Saito, oke?"

"Apakah akan baik-baik saja seperti itu?"

“Aku akan marah jika makananku dipandang rendah.”

“Jika kamu marah, jangan menyarankan hal itu untukku! Seperti yang diharapkan, makan di kantin sekolah akan baik-baik saja bagiku.”

“Yah…..tidak ada cara lain. Tapi, jangan pakai menu tanpa nutrisi ya? Bahkan di kafetaria, kamu harus memilih 1 sup dan 3 sayuran, jangan biarkan tubuhmu sakit."

Akane mengangkat jari telunjuknya dan memberitahunya.

"Kamu adalah ibuku."

Saito tersenyum pahit.

“A, aku bukan ibumu! Jika kondisi orang yang tinggal denganku tidak baik, maka orang yang akan terganggu karena hal itu adalah diriku sendiri, kan!?”

"Ah, memang benar ketika kamu demam, banyak hal sulit terjadi."

Ketika dia mencoba berbicara dengan cara yang sarkastik, Akane membuat wajah seperti 'ini sudah berakhir'.

“Ugh~......Singkatnya, itu dia! Agar tidak menimbulkan masalah bagi kedua belah pihak, itu harus dikelola dengan baik! Paham!?"

Sebuah sikap untuk mengabaikan sesuatu terkadang dibutuhkan untuk satu atau dua hal.

“Yang terburuk adalah orang-orang akan mengetahui rumah kita. Jika kamu terlihat hidup di bawah atap yang sama, tidak peduli bagaimana kamu menjelaskannya, itu tidak akan cukup."

“Begitu juga saat pergi ke supermarket, jadi lebih baik pergi ke supermarket yang agak jauh. Meskipun akan sedikit berlebihan saat aku membawanya kembali…”

Sementara mereka berbicara satu sama lain, keduanya mendengar langkah kaki di lorong.

Pintu masuk dibuka dengan santai.

“……………!!””

Baru saja mereka mempertanyakan hubunganku dengannya, dan jika aku ketahuan bertemu secara rahasia dengannya, aku sudah pasti akan tamat.

Saito dan Akane bersembunyi di bawah meja guru. Keduanya saling berdesakan untuk menyembunyikan diri.

"Berapa banyak yang bisa dikirim?" "Delapan dari mereka, kan?" “Kudengar itu membutuhkan lebih banyak~” “Biarkan aku bertanya pada gurunya dulu.”

Ketika mereka bertukar obrolan, sekelompok siswa memasuki ruangan kosong dan berjalan-jalan. Sepertinya tidak ada tanda-tanda mereka akan pergi dalam waktu dekat.

Saito dan Akane menyembunyikan napas mereka. Meja guru cukup rapat sehingga tidak memungkinkan untuk dipindahkan.

Posturnya saat ini seolah-olah Akane sedang berlutut dan dipeluk oleh Saito.

Payudaranya ditekan ke wajah Saito.

Aroma manis menyerang rongga hidungnya.

"Hei, hei ...... geser sedikit ......"

"Jangan katakan omong kosong."

Saito juga merasakan darah mengalir deras ke arah kepalanya.

“S, sangat geli~……Jangan bicara……”

"Kamu bahkan tidak mengatakan....."

Seolah mencoba membungkamnya atau semacamnya, Akane menggunakan lengan seragamnya untuk memeluk kepala Saito dengan erat. Karena itu, jarak antara keduanya memendek, perasaan lembut dari seorang gadis menyiksa Saito.

Yang bisa dia dengar adalah nafas dari Akane yang terengah-engah, dan suara jantungnya yang berdetak kencang. Tidak, detak jantung yang berisik ini mungkin milik Saito sendiri.

Dua musuh alami satu sama lain lebih dari siapa pun di sekolah ini, Saito dan Akane, bersama di tempat ini, berbaur bersama seperti ini benar-benar tidak terpikirkan.

Bahkan Saito sendiri merasakan kenyataan yang tipis, seolah-olah dia berada di dalam mimpi. Dalam mimpi itu, dia terkejut bahwa itu tidak semenyenangkan mimpi buruk.

"Pindahkan meja guru?"

Setelah mendengar suara siswa lain, tubuh Saito dan Akane membeku.

—Tamat sudah.

Jika mereka berdua ditemukan dalam keadaan seperti ini, itu benar-benar bukan lelucon.

Jika mereka adalah teman sekelas, mereka mungkin hanya mendapatkan cibiran ini ‘Seperti yang diharapkan kalian berdua berkencan!’, dan bahkan jika mereka adalah siswa dari kelas lain, rumor akan menyebar ke seluruh sekolah.

"Apa yang harus kulakukan sekarang…”

Akane mengeluarkan suara gelisah.

"Tidak peduli apa yang kamu minta......"

Biasanya, pikiran fleksibel Saito juga dapat menjadi tumpul seperti tertutup pasir, dan menjadikannya tidak dapat digunakan sama sekali.

Langkah kaki mendekat.

Saito dan Akane dengan gugup saling mengandalkan satu sama laun.

Tepat ketika mereka berdua mengira itu sudah berakhir, siswa lain berbicara.

"Meja guru itu berat, jadi pinjamlah dari kelas lain." "Ah, itu benar." "Husy!"

Pintu ditutup, dan langkah kaki seluruh kelompok siswa menghilang.

Setelah tidak mendengar apa-apa lagi, Saito dan Akane merangkak keluar dari bawah meja guru.

“Haa~……Haa~……A,apa yang salah denganmu……”

Akane menangkup pipinya dengan kedua tangan dan mengatur napasnya.

Saito tidak tahu harus berbuat apa tapi seluruh tubuhnya terasa panas. Dia mengendurkan kerahnya dan mengipasinya dengan telapak tangannya.

Mereka terlalu malu untuk bertatap muka sehingga keduanya saling membelakangi dan berbicara.

"A, akan buruk jika kita meninggalkan kelas bersama-sama."

“Ya, um. Aku akan keluar melalui koridor, dan Saito akan keluar melalui jendela."

"Ini lantai empat!"

"Kamu tidak bisa melompat begitu saja......"

“Memangnya ada cara lain."

“Jadi aku harus menari!?”

“Tidak perlu menari. Pulang saja ke kelas duluan. Aku akan kembali sebentar lagi."

“M, mengerti! Kalau begitu sampai jumpa nanti!"

Dan Akane berlari keluar dari ruang kelas yang kosong itu.

'Sampai jumpa nanti', ini mungkin pertama kalinya dia mendengar hal itu dari Akane.

Itu mungkin dikarenakan dia sedang kehilangan ketenangannya, tetapi itu adalah salam dengan niatan bahwa mereka akan bertemu kembali. Sebuah perkembangan besar dari dua tahun ketika mereka mulai bersekolah bersama, sesuatu yang dapat Saito pikirkan hanyalah cara agar tidak bertemu dengannya.

Saito, merasa terkejut, dan dia berjalan keluar dari ruang kelas yang kosong.

Untuk memastikan suatu hal, dia melihat sekeliling dan ketika dia berjalan kearah kelasnya, dia bertemu Himari di tangga.

"Ah, Saito-kun."

Dengan langkah ringan, Himari berlari menuruni tangga.

Dia melompat menuruni dua anak tangga terakhir, membusungkan roknya ke atas, dan mendarat di depan Saito.

"Berlari menuruni tangga akan membuatmu jatuh."

“Tidak apa-apa~ tidak apa-apa! Karena pada saat itu Saito-kun akan menangkapku!"

"Jangan seret aku. Aku hanya akan menghindar dengan sekuat tenaga."

“Benar-benar buruk~! Bukankah itu disukai oleh para gadis?"

"Aku tidak perlu disukai untuk/(dalam) hal apa pun."

"Ahaha, mirip sekali dengan Saito-kun lagi."

Himari meletakkan tangannya di belakang pinggulnya dan menunjukkan senyum cerah.

Sahabat terbaik Akane sejak tahun pertama, dan dia memiliki hubungan dengan Saito. Meskipun dia mengatakan itu, dia tidak berdebat dengannya seperti Akane, tetapi berbicara tentang segala macam omong kosong sehingga Saito merasa nyaman.

“Sekarang aku menyebutkannya~……”

Himari berkata seolah dia baru ingat.

"Kotak bento Saito-kun tidak benar-benar dibuat oleh Akane, kan?"

Saito terkejut. Dia tidak menunjukkan ekspresi apa pun tetapi mengangkat bahu dengan bercanda.

“Hanya menggunakan makanan beku yang sama, kan? Yah, orang bisa memikirkan kemungkinan kecil untuk meniruku.”

"……Betulkah?"

Himari bertanya dengan nada serius yang langka.

Dia mendekatkan wajahnya ke Saito, seolah tidak menunjukkan rasa malu.

Meskipun tinggi otot hidungnya berbeda dari orang Jepang lainnya, dalam jarak ini dia hampir menyentuh sisi hidung Saito. Aroma parfum yang tampak dewasa itu bercampur dengan antusiasmenya dan menyebar.

"……Itu benar."

"Kalian berdua... tidak berkencan?"

Mata yang menatapnya itu berayun.

Saito menelan pikirannya yang sedang gelisah.

"……Tentu saja."

"......Benarkah. Begitukah. Benar ha! Ummm!"

Himari mengangguk berulang kali.

Saat Saito mendesah, dia membuat gerakan seperti mengibaskan punggunnya ke Saito.

“Maaf, aku tiba-tiba menanyakan sesuatu yang aneh padamu! Aku akan pergi memecahkan kesalahpahaman dengan semua orang! oke♪”

Himari tersenyum malu-malu dan pergi.

Kata-kata dari orang terkenal seperti Himari pasti akan dipercaya oleh semua orang di kelas.

Dengan ini, Saito merasa lega karena bisa kembali ke hari-hari yang damai.


<    Sebelumnya    |    Index    |    Selanjutnya    >

You may like these posts

9 Komentar

  1. MaulanaRama13
    Lanjutkan min
  2. Elang_XY
    Semangat min
  3. Yu
    mantap min
  4. Lucifer
    Mantap
  5. P
    gas gas gas
  6. Animous
    saingan kah ?
  7. Unknown
    Lanjutkan min
  8. Unknown
    himari kayanya suka ya sama saito
  9. menunggu next