Kurasu no Daikiraina Joshi to Kekkon Suru Koto ni Natta Volume 2 - Chapter 2 (Part 1)
Chapter 2 - Sahabat Terbaik (Part 1)
Kipas angin kayu yang berada di langit-langit kafe berputar perlahan
dengan elegan.
Menu di atas meja ditulis tangan dengan gaya yang esetetik, dan rak yang
berada di sudutnya dihiasi dengan pernak-pernik yang terlihat sangat enak
untuk dipandang.
Kecuali bunyi bel pintu yang membuat suara ketika pelanggan datang, maka
ini sepenuhnya akan menjadi ruang yang sunyi dan tenang.
Di dalam toko, Akane sedang menikmati teh bersama Himari.
Kaki mereka berada bersampingan. Sambil mengunyah scone dengan
krim kental dan selai stroberi, disertakan dengan minuman teh hitam rasa
stroberi. Dia menghabiskan waktu yang sangat membahagiakan dengan
sahabatnya.
Tapi kedamaian itu tiba-tiba hancur oleh sebuah pertanyaan yang datang
dari Himari.
"Akane, kamu menyukai Saito-kun, kan?"
“……!?”
Akane memuntahkan teh merah dari mulutnya. Dia terbatuk keras, dan Himari
membelai punggunggnya. Sepertinya dia mengenai tepat pada sasarannya,
bahkan air matanya pun mengalir.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
“T, tidak apa-apa, tapi...... ada apa tiba-tiba sekali?”
“Aku hanya ingin bertanya. Apa pendapatmu tentang Saito-kun?"
“A, aku tidak pernah memikirkannya sama sekali! Mustahil aku akan
menyukai orang seperti itu! Jika orang itu tidak ada, aku pasti sudah dari
lama akan menjadi yang teratas di kelasku."
"Jadi begitu~"
“Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal ini padaku?”
Akane memiringkan kepalanya.
Himari menunduk, memegang cangkir teh merah di telapak tangannya.
Bibirnya membisikkan sesuatu.
“Aku, ya. Aku......menyukai Saito-kun.”
[Note : aowakowakwo sudah kuduga]
“Eh~……”
Kata-kata tak terduga itu membuat Akane menegang sejenak.
Akane pikir dia/(Himari) sedang bercanda, tapi dia tidak terlihat seperti
itu. Seseorang yang selalu kuat seperti Himari tetapi hari ini dia
terlihat seperti orang yang berbeda, dia menggigit bibirnya sementara
telinganya memerah. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Himari seperti
ini.
"A, apa bagusnya pria itu?"
Sementara Akane masih bingung, Himari menjawab dengan malu-malu.
"……Semua."
"Bukankah mereka semua itu adalah kebencian?"
"Dia memiliki banyak poin bagus di sana!"
"Begitukah......atau apakah kamu telah ditipu olehnya?"
"Aku tidak ditipu olehnya!"
Akane sangat ingin menyelamatkan Himari dari telapak tangan Saito.
Sejak tahun pertamanya, dia hanya merasa terganggu olehnya, jadi dia
tidak percaya akan ada orang yang tertarik padanya. Tapi yang terpenting
dari semua itu adalah, yang tertarik pada orang itu adalah sahabatku.
"Saito-kun, dia sangat keren."
Seolah menjadi sedikit serius, Bibir Himari cemberu.
"Keren……? Apakah matamu rusak/(buta)……?”
Akane bertekad untuk menemukan dokter mata yang baik untuknya.
“Mataku tidak rusak! Aku tidak berbicara tentang penampilannya, ah~,
tentu saja dia keren di luar, tapi bagian dalam dirinya lebih keren."
"Dalam……?"
Akane membayangkan sesuatu yang lain yang dapat muncul dari dalam
cangkang Saito.
“Ketika aku sedang mempersiapkan konferensi senam, temanku jatuh pingsan
karena Demam. Semua orang panik karena tidak ada guru di UKS, tapi hanya
Saito-kun yang tenang pada saat itu."
Himari memasukkan gula ke dalam secangkir teh hitam, lalu mengaduknya
dengan sendok.
“Dia dengan cepat membawa temannya ke tempat yang teduh, memerintahkan
semua orang untuk merawatnya, bahkan menemukan nomor kontak orang tuanya
untuk datang menjemputnya…… Biasanya dia adalah perlambangan dari
ketenangan, tapi hanya pada saat itu aku merasa dia seperti seorang
pangeran, dia sangat keren~”
“......Dia hanya menyombongkan/(berlagak) diri bukan?”
“Itu poin yang bagus~. Dia jauh lebih bisa diandalkan daripada anak
laki-laki lain.”
“Um……”
Dalam benak Akane berbisik bahwa dia sendiri juga mengerti akan hal
itu.
Sama seperti saat Akane terkena demam tinggi, Saito tidak terburu-buru
sama sekali. Dia bahkan dengan tenang merawatnya, lalu menggendongnya
seperti seorang putri ke rumah sakit......Dia tidak bisa menyangkal
perasaan kepercayaannya bahwa dia berayun dalam pelukannya.
"Aku, sama sekali tidak percaya diri, jadi aku mengagumi seseorang dengan
kepercayaan diri yang sempurna seperti Saito-kun."
"Mengagumi……"
Dia juga mengerti hal ini.
Seperti duri yang selalu berada di puncak kelas, Saito, seperti tembok
yang terang bagi Akane. Kata-kata yang dia ucapkan saat demam tinggi
bukanlah kebohongan. Sejak memasuki atap SMA ini, tujuan Akane adalah
mengejar tembok itu dan menghancurkannya.
Himari mengangkat tubuhnya dari meja dan dengan antusias berbicara.
“Setelah itu~, setelah itu~, Saito-kun adalah seseorang yang lembut
benar-benar berada di luar imajinasi! Biasanya akan menjadi hal yang
normal ketika aku menjadi dingin ketika sedang marah, dan dia menyadari
hal itu lalu terkadang bertanya padaku ‘Apakah kamu baik-baik saja?’ juga!
Kadang-kadang dia bahkan suka memberiku permen! Aku tidak tahu kenapa dia
membawanya, tapi itu enak~……”
Himari memejamkan matanya terlihat bahagia, Akane dengan lembut tergerak
karena kata-katanya.
Itu Karena, Saito adalah orang yang perhatian.
Dia bahkan mengingat isi dari teks yang bahkan Akane sendiri tidak ingat,
dan membelikan Akane hadiah yang disukainya. Meskipun dia pria yang
ceroboh, dia bukan tipe pria yang menginjak-injak hati orang lain.
"Himari......kau tahu banyak tentang poin bagus Saito, kan."
“Um!”
Himari mengangguk kuat.
Himari sudah lama mengetahui tentang bakat Saito yang pertama kali dia
ketahui setelah menikah.
Akane menurunkan pandangannya, merasa sedikit tidak nyaman.
Dia tidak mengerti mengapa dia marah pada dirinya sendiri. Di dalam
hatinya ada rasa yang tidak nyaman seperti duri yang tersangkut di sebuah
pohon kecil. Kemudian Akane menyapu perasaan itu dengan meminum the
merahnya.
Himari menutup mulutnya dengan tangannya untuk menyembunyikan
suaranya.
"Selain itu, pria selain Saito-kun hanya melihat dadaku saja......"
"Apakah begitu!?"
Akane terkejut.
“Ya ampun ~, mereka terus menatapnya. Saat berbicara dengan orang lain,
mau tidak mau kamu harus menatap rekan bicaramu, namun orang-orang itu
sangat rendah, dan hanya melihat dadaku saja~"
"Bukan itu masalahnya! Itu adalah pelecehan seksual! Kita harus
mengumpulkan anak-anak yang sering melakukan pelecehan seksual di kelas
dan membunuh mereka!"
"Jika itu masalahnya maka kejahatanmu akan lebih buruk, Akane!"
"Kamu akan mengunjungiku (di penjara), kan?"
Akane sudah siap untuk menghadapi tragedy tersebut.
“Kalau begitu, aku akan datang berkunjung! Lagipula, itu karena mereka
laki-laki jadi mereka menyukai payudara perempuan."
“Mereka belum pernah menatap payudaraku sebelumnya……”
Membandingkan payudaranya yang sederhana dengan payudara Himari, Akane
merasakan emosi yang sedikit rumit dalam dirinya.
“Namun, Saito-kun berbeda. Dia tidak pernah menatapku dengan tatapan
mesum, dia bahkan tidak melirikku sedikitpun ketika sedang berenang.
Bagian dirinya yang dewasa itu, bagus sekali~!”
"Saito itu bukanlah orang yang suci dan sopan......kau akan mati jika kau
ceroboh sedikitpun."
"Mati!? Apa yang akan terjadi kepadaku!?"
“Pria itu berpura-pura bahwa dia terlihat baik diluar, dia benar-benar
melakukannya! Suatu saat dia pasti akan meamandangmu seperti sedang
menjilati seluruh tubuhmu, Himari!"
Konon, sejak Akane menikah dengan Saito, dia tahu bahwa Saito tidak
pernah sekalipun menyentuhnya.
Ada juga saat ketika dia/(Akane) menunjukkan padanya/(Saito) bahwa dia
sedang tidur, lalu mencoba memastikan apakah dia menyerangnya atau tidak,
tapi Saito bahkan tidak menoleh padanya sedikitpun dan hanya fokus membaca
buku, minum air, dan kemudian dia tertidur lelap. Bukannya Akane ingin
dilecehkan secara seksual atau apa, tapi ketika dia diabaikan juga melukai
harga dirinya.
Tentu saja, dia tidak memiliki hasrat seksual. Atau, karena dia selalu
dekat dengan orang yang sangat cantik seperti Shisei, dia mungkin merasa
bahwa kecantikan dirinya/(Akane) biasa saja.
Himari berbisik dengan pipi kemerahan.
"Yah, tidak masalah jika itu dilihat oleh Saito-kun."
"Kau serius, bukan?"
“Um.”
Dia mengangguk kecil.
"Terus……"
Cinta adalah sebuah cerita di dunia yang jauh. Meskipun itu di TV atau
film, untuk Akane yang pernah berpikir itu tidak ada hubungannya dengan
dia, dia bisa merasakan kakinya/(Himari) sedikit bergetar.
Jari-jari himari juga bergetar karena kegelisahannya.
"Itulah kenapa......kurasa jika aku bisa mendapatkan dukungan dari
seseorang yang dekat dengan Saito-kun, seperti Akane, aku akan
senang."
"A, aku tidak dekat dengannya!"
“Akan lebih baik untuk mengatakan jarak antara kalian berdua sangat
dekat. Orang yang banyak berbicara dengan Saito-kun selain Shisei hanyalah
kamu, Akane."
“Sebaliknya, aku hanya sering marah padanya, dan tidak pernah
membicarakan apapun?”
"Tolong! Tolong dukung aku agar Saito-kun dan aku bisa saling jatuh
cinta!"
Himari mengatupkan kedua tangannya.
“Etto……”
Akane tersedak.
Tidak ada alasan untuk menolak. Meskipun dia menikah dengan Saito, itu
hanyalah formalitas bagi keduanya. Keduanya tidak punya pilihan selain
hidup bersama untuk memenuhi impian mereka sendiri.
Tidak ada cinta di antara mereka berdua.
Akhir-akhir ini, meskipun ada hari-hari yang lebih menyenangkan untuk
mereka berdua, tetapi seperti yang diharapkan, masih ada pertengkaran
diantara keduanya.
Juga karena dia tidak bisa memikirkan masa depan di mana dia akan
menyukai Saito, akan lebih baik untuk meninggalkan sendirian tentang
urusan percintaan.
Yang terpenting adalah, Akane tidak ingin melihat sahabatnya Himari
marah.
"Aku mengerti. Aku akan membantumu."
“Terima kasih~! Aku sangat mencintaimu Akane!”
Himari dengan senang hati terbang ke tempat Akane.
Pelukan yang sangat lembut dan nyaman.
Sejak dulu, membiarkan sahabatnya datang memeluknya, membuat Akane bisa
melakukan apa saja.
“Secara khusus, apa yang harus kulakukan? Aku tidak mengerti apa-apa
tentang cinta, jadi aku tidak tahu bagaimana aku dapat membantumu."
“Pertama-tama, aku ingin mendapatkan lebih banyak informasi tentang
Saito-kun! Aku ingin tahu semua tentang Saito-kun, seperti apa yang dia
suka, apa yang dia benci, dan hobinya!”
Akane mengerutkan kening.
“Karena hal-hal itu sepertinya akan membantu untuk mendekatkanku
dengannya……tapi, jika itu demi seseorang yang kamu sukai, kamu pasti ingin
tahu hal itu, kan?”
“Hah~……? Begitukah…?”
"Itu dia! Akane memiliki kepribadian yang kekanak-kanakan jadi dia
mungkin akan menghormatimu"
[Note : kalimat di atas hanya Sebagian yang ke TL, jadi kalimat di atas w
sesuaikan sendiri, tapi intinya artinya sama lah]
“A, Aku bukan anak-anak! Aku biasanya bisa makan kari pedas."
“Itu kekanak-kanakan untuk bangga karena makan makanan pedas~. Kamu
harusnya makan yang super pedas! ”
“S, Super pedas, itu terlalu……”
Itu masih terlalu dini.
Mata Himari bersinar dengan antisipasi.
“Informasi tentang Saito-kun, Akane pasti tahu banyak, kan? Kalian banyak
berbicara setiap hari."
“Ara…?”
Saat ditanya, Akane tercerahkan untuk pertama kalinya.
Bahwa, meskipun mereka tinggal bersama, dia sendiri hampir tidak tahu
apa-apa tentang Saito.
Saito sedang membaca buku di ruang tamu ketika dia dikejutkan oleh sebuah
niat membunuh.
—Apa ini, perasaan ini......? Apa aku sedang diawasi oleh
seseorang……?
Dia segera memutar pinggulnya di sofa dan melihat sekeliling, tetapi
tidak ada seorang pun di sana.
Keheningan kembali ke ruang tamu. Yang bisa dia dengar hanyalah suara air
yang menetes dari keran di seberang meja dapur. Mungkin Saito tidak
menutup kerannya dengan benar, setelah mengambil Air tadi.
—Ini merepotkan, biarkan saja.
Ketika dia memikirkan hal itu dan hendak kembali membaca, niat membunuh
yang ganas itu menyerangnya sekali lagi.
Saito mendapat firasat buruk jadi dia bangkit dan pergi untuk mematikan
keran tersebut.
Dia ingin menghindari kemarahan Akane ketika dia pulang ke rumah dan
berkata ‘Itu membuang-buang banyak Air!’, Dia hanya ingin menikmati
perasaan santai ketika berada di rumah.
Saito sekali lagi kembali ke sofa untuk membaca buku.
Namun, tidak peduli berapa lama waktu berlalu, niat membunuh itu tidak
hilang sedikitpun.
Sedikit demi sedikit, sedikit demi sedikit, dia merasakan bahwa hawa
membunuh tersebut menjadi sedikit lebih intens.
Niat membunuh diam-diam mendekat di belakangnya, dan Saito mengumpulkan
semua tekadnya untuk berbalik untuk melihatnya.
“…………………”
Akane menatapnya dengan mata seorang pembunuh. Tangannya mencengkeram
pena yang ujungnya berkilau, membuat Saito ketakutan.
"Apa, apa yang sedang kamu lakukan ......?"
"Tak usah diperdulikan, lanjutkan saja hidupmu seperti biasa."
Akane berbicara dengan suara sehingga dia/(Saito) tidak dapat mengetahui
sedikit pun emosi dalam nada bicaranya.
"Bagaimana bisa aku tidak peduli!"
"Jangan pedulikan itu, itu adalah tugasmu untuk melanjutkannya seperti
biasa."
"Tugas apanya!"
“Sama seperti monyet profesional di sebuah kebun binatang, mereka tidak
merasa malu ketika dilihat oleh banyak tamu dan masih menjalani kehidupan
normal mereka. Kamu juga harus memiliki sebuah kebanggan sebagai monyet
profesional.”
"Aku bukan monyet profesional!"
"Jadi itu monyet amatir?"
"Tapi aku bukan monyet!"
Saito merasakan adanya ancaman jadi dia meninggalkan ruang tamu.
—Gadis ini, berniat membunuhku dengan berpura-pura menulis
dibelakangku......?
Itulah yang dia pikirkan, tidak mungkin untuk mengatakan kemungkinannya
adalah nol.
Sedikit kelegaan karena jarak mereka makin menipis itu hanyalah
imajinasinya sendiri. Akane hanya berpura-pura lembut untuk membiarkan
Saito mengabaikannya bahwa dia adalah musuhnya.
—Sebuah strategi, ya……!
Rumah ini memang medan perang, hanya dengan sedikit celah saja, kepalamu
akan langsung terbang.
Saito memperketat penjagaannya lagi.
Mustahil untuk berada di ruang tamu yang tidak ada penjagaanya
sedikitpun, jadi dia mengunci dirinya di dalam ruang kelasnya sendiri.
Tentu saja, dia tidak menggunakannya untuk belajar, tetapi dia menguncinya
dengan hati-hati dan membenamkan dirinya dalam buku yang dia sukai.
Tapi tetap saja, aura membunuh itu.
Saito segera melihat sekeliling ruangan.
Akane tidak ada di sini.
Dia memeriksa di bawah meja atau di dalam lemari, tapi sudah pasti tidak
ada Akane di dalamnya. Sejak dia/(Akane) pindah kesini, bersih-bersih
ruangan ini saja tidak pernah, dan dia juga tidak pernah berniat memasuki
kelas Saito.
Namun, niat membunuh tersebut belum hilang.
Akane, menonton.
—Lagipula, di mana......?
Ketika Saito tidak tahu harus berbuat apa, dia mengalihkan pandangannya
ke luar jendela.
Kemudian, dia melihat Akane berdiri di jalanan, dia menggunakan teropong
untuk melihat ke dalam kelas Saito.
Meskipun dia dengan hati-hati menutupi matanya dengan sebuah tudung, juga
menutupi mulutnya dengan syal, untuk meningkatkan kecurigaannya,
dia juga bisa melihat
rambutnya diikat dengan pita.
Tanpa berkata-kata Saito menarik tirai ke jendela hingga menutupinya.
—Aku sedang distalking oleh istriku, jadi apa yang bisa
kulakukan!?
Itu adalah salah satu hal yang akan dia diskusikan dengan polisi, tapi
dia takut mereka tidak akan melanjutkan kasusnya. Pertama-tama, dia tidak
tahu apakah dia benar-benar membuntutinya atau tidak.
Dia merasa dia telah sedikit memahami perasaan Akane, tapi itu murni
hanyalah arogansi.
—Gadis ini mungkin tidak akan pernah bisa mengerti!
Saito mengerti hal itu, dan waktu makan malam juga telah tiba.
"Ada apa? Cepatlah makan nanti makanannya menjadi dingin."
Akane menyesal, tapi dia tidak menyentuh makanannya, tapi dia hanya
mengarahkan smartphone-nya ke arah Saito.
“......Apakah kamu sedang merekamku?”
"Ya, merekammu."
"Mari kita bicara tentang hak tentang perekamman pribadi."
“Ini hanyalah video rumahan. Hukum tidak punya tempat untuk campur
tangan.”
“Apakah kamu merekammnya karena ini makan malam terakhirku!? Lalu kamu
akan mengirim video itu sebagai bukti pembunuhan ke badan intelijen kan!?
Dan uangnya akan ditransfer ke rekeningmu, kan!?”
Saito jatuh ke dalam teori konspirasi ketidakpercayaan miliknya.
Akane meletakkan ponselnya di atas meja dan mengerutkan kening.
"Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu katakan. Apakah kamu tidak
apa-apa?"
"Aku hanya tidak mengerti apa tujuanmu!"
“Kamu bahkan tidak bisa mengerti. Cepat, makanlah. Aku harus mengukur
berapa kali kamu berkedip saat makan. ”
“Mungkinkah, apakah kamu tengah memperhatikanku sepanjang waktu……? Untuk
apa……?"
"Itu……"
Akane mengalihkan pandangannya seolah dia malu.
"B, bahkan jika mulut Saito robek, aku tidak akan bisa mengatakan
alasannya!"
"Kenapa harus mulutku yang sobek!"
"Ayolah, kenapa begitu......ufufu."
Dia takut dengan senyum gelapnya. Saito mengambil pisau serta garpu dan
memasuki mode bertarungnya.
Dia berhenti merekammnya dan entah mengapa dia mulai memakan
hamburgernya. Dia mengiris hamburger seperti sedang mengiris mulut Saito,
lalu memasukkannya ke mulutnya sendiri dan mengunyahnya.
Keheningan yang menyesakkan, dan rasa urgensi yang menakutkan. Saito sama
sekali tidak merasa bahwa makanan akan dapat melayang ke
tenggorokannya.
Ketika dia entah bagaimana menggunakan air untuk mendorong hamburger ke
bawah, Akane memecah kesunyian.
“......Kamu, kamu suka payudara besar, kan?”
“!?”
Saito curiga dia salah dengar.
“P, payudara…? Apa niatmu saat bertanya hal seperti itu......?”
Pipi Akane terasa panas.
“Tidak ada makna yang dalam. Itu hanya obrolan ringan!"
"Bagaimana pertanyaan yang mengejutkan seperti itu dapat dihitung sebagai
obrolan ringan, itu tidak masuk akal!"
Tentu saja, hanya air yang mengeluh.
[Note : yg kalimat diatas juga gw gk ngerti, udah bolak-balik
diterjemahin juga sama aja]
Akane menghela nafas.
“Jadi, biarkan aku mengubah pertanyaannya. Untuk ukuran payudara, dari A
sampai Z, kamu lebih suka ukuran yang mana?"
“Itu tidak ada bedanya dari sebelumnya! Tapi kenapa ada ukura Z di dunia
ini?"
Sepertinya hal itu juga bisa menjadi senjata terakhir. Payudara tampaknya
juga bisa dipakai untuk membunuh.
Saito ragu-ragu untuk menjawabnya.
Mungkin benar untuk mengatakan bahwa dia menyukai ukuran payudara Akane,
untuk memulihkan suasana hati istrinya, dan kemudian keluarga ini akan
Kembali seperti semula lagi.
Namun, ada risiko dia akan menjadi sangat marah dengan mengatakan ‘Jadi
kamu menatapku dengan tatapan seperti itu?!’.
Namun, jika dia mengatakan dia menyukai ukuran payudara Akane yang lebih
kecil, dia mungkin akan dicap ‘Lolicon’ karenanya, atau jika dia
mengatakan bahwa dia menyukai ukuran yang lebih besar, dia akan dicap
sebagai ‘Mothercon’ yang menjijikan.
—Aku…apa yang harus aku lakukan……apakah tidak apa-apa……~!?
Saito memegangi kepalanya saat dia tidak bisa menemukan jawaban atas
pertanyaan yang sulit.
“Itu memang tidak pasti. Jika kamu seorang pria, maka buatlah keputusan
yang pasti."
Akane menatap Saito yang menggeliat di atas meja seolah sedang melihat
tumpukan sampah. Akibatnya, skor kebaikannya berkurang secara
signifikan.
"Kalau begitu bisakah kamu segera menjawabnya !?"
Saito memelototi Akane.
“Aku suka ukuran yang sama dengan Himari. Sesuatu yang terasa aman dan
nyaman saat dipeluk.”
“Ku~……oke, tidak peduli apa yang dikatakan seorang gadis, itu tidak akan
menjadi pelecehan seksual ya!”
Jika anak laki-laki seperti Saito mengatakan hal yang sama persis, Akane
pasti akan menghancurkan meja makan ini, memberitahu Himari tentang hal
ini, dan kemudian rumor itu akan menyebar ke seluruh sekolah, memoles
kematian sosialnya.
“Etto……Lalu……Saito, gadis seperti apa yang kamu suka?”
"Hah……?"
Pertanyaan tak terduga lainnya, tidak lebih dan tidak kurang sama
topiknya tentang ukuran payudara yang kamu sukai.
Akane bukan tipe orang yang membicarakan cinta, apalagi, dia tidak akan
membicarakannya dengan Saito. Karena di antara keduanya tidak ada yang
namanya nuansa cinta.
Namun, sekarang Akane tersipu lagi, tidak menatap mata Saito seolah
sedang menunggu jawabannya. Dia meletakkan tangannya di pahanya, tubuhnya
gelisah seolah-olah dia malu.
—Apakah dia tertarik padaku……?
'Tidak, kenapa bisa begitu?' - Saito menepis pikiran yang terlintas di
benaknya sejenak.
Hanya Akane yang tidak memiliki kemungkinan seperti itu. Saito dan Akane
adalah musuh alami. Dia tidak pernah melupakan dua tahun perang dengannya
di bawah atap sekolah menengah yang degannya.
“Tentang itu......aku tidak punya minat khusus.......”
"Jadi tidak apa-apa jika itu perempuan."
"Caramu mengatakannya sangat menyesatkan!"
“Lalu jika itu bukan manusia, itu normal untukmu, kan? Seperti ikan
guppy, misalnya.”
"Aku tidak tahu bahwa ikan guppy bisa berubah menjadi seorang
wanita!"
Akane mengangkat alisnya.
"Itu kasar. Kamu menyakiti ikan guppy."
"Bagaimana itu bisa menjadi hal yang kasar!"
"Di luar, aku tersenyum untuk membuat orang berpikir aku kuat, tapi
kenyataannya, aku sangat rapuh, kan?"
"Apakah kamu berbicara tentang ikan ...?"
Saito telah kehilangan kepercayaan dirinya. Dia tahu tidak baik
membedakan antara ini dan itu, tapi sulit untuk memahami perasaan ikan
guppy.
“Jadi, kamu suka makan apa?”
"Contohnya? Steak, atau sushi misalnya. Oh, dan aku juga suka sushi
seafood dengan banyak telur salmon di atasnya.”
"Kamu hanya seorang siswa, tetapi kamu makan makanan yang seperti
itu."
“Bagaimana aku bisa memakanny sendiri? Aku biasanya diundah oleh sesorang
untuk makan makanan itu.”
Itu tidak bisa diremehkan karena pada usia itu kakek memiliki nafsu makan
yang lebih besar dari cucunya. Cukup masuk ke toko dan langsung pesan 500g
steak dan itu akan habis dalam sekejap.
"Kamu terlalu dekat dengan kakekmu."
"Tidak juga. Aku tidak bisa menolak, ketika jika dia mengajakku."
"Kau sangat menyukainya, bukan?"
Akane menyipitkan matanya dan menggodanya.
“Jangan mengatakan hal-hal buruk tentangku. Aku enggan diseret pergi
olehmu. Bahkan setelah lulus sekolah dasar, aku hanya ingin membaca buku
tetapi tiba-tiba aku diseret ke dalam helikopter …… ”
“......Lalu terbunuh?”
“Aku masih hidup sambil menyeringai di sini! Diculik ke mansion, dan
bahkan mengadakan pesta untuk merayakan ulang tahun kelulusan."
"Kamu sangat dicintai olehnya!"
“Sungguh sayang, itu adalah……Pesta yang berlangsung sepanjang minggu, dan
aku tidak memiliki waktu sama sekali untuk membaca buku……”
Saito menggigil saat mengingat hari-hari membosankan yang terlalu berat
untuk ditanggungnya.
Dia merasa membuang-buang waktu ketika dia dipaksa untuk berbicara dengan
anak-anak dari kenalan atau dari bawahannya.
—Ah, tapi......itu menyenangkan pada saat itu.
Rambut panjang cocok untuk gadis cantik.
Gadis yang hanya dia lihat sekali, dan dia jatuh cinta pada saat itu,
hanya dia yang dapat menarik perhatiannya untuk berbicara tentang masa
lalu.
Gestur, postur, aroma, ekspresi malu-malunya, suaranya yang menggema ,
semuanya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Dia sepertinya menyukai Saito juga, karena terkadang dia tersenyum ke
arahnya seperti seorang malaikat.
Namun, karena dia jarang lupa, dia lupa menanyakan namanya.
Di mana dia sekarang, apa yang sedang kamu lakukan?
Masih terlalu pucat untuk disebut cinta, itu hanyalah perasaan masa
kecilnya.
“Fumu, Fumu~……Begitulah. Aku benci kakekku.”
Akane sedang mencatat. Dan yang dia gunakan adalah pena yang
disalahartikan Saito sebagai senjata pada siang hari tadi.
Meskipun tujuannya tidak diketahui, kebenaran tampaknya Akane ingin tahu
tentang informasi Saito. Sebenernya itu juga tidak mengganggu Saito.
“Pertanyaan lebih lanjut. Apa jenis steak yang kamu suka?”
“Daging dengan gaya yang langka*.”
(* Daging yang dimasak 25% saja)
Pena Akane masih meluncur.
“Seperti, daging mentah, langka.”
“Tidak dipanggang mentah.”
Meskipun potongan daging langka berwarna merah, itu telah dipanggang
dengan benar di atas api.
"Kamu ingin menggunakannya dengan apa?"
“Bawang putih goreng, misalnya. Jenis yang tidak terlalu renyah."
“Dengan bawang putih mentah panggang.”
"Sudah kubilang itu tidak dipanggang mentah."
Ini mungkin berarti Akane berniat membuat sesuatu yang disukai Saito.
Karena itu Akane yang membuatnya, dia yakin produk jadinya pasti akan
menjadi hidangan yang lezat.
Saito merasakan kelenjar ludahnya mengharapkan hal ini.