Tokidoki Bosotto Roshia-go de Dereru Tonari no Aarya-san Volume 2 - Chapter 1


 Chapter 1 - Kamu mengerti maksudku, kan ?

"Ahhhh... Apakah aku benar-benar...?"

Seorang siswa bergumam pelan ketika dia berjalan keluar di malam hari. Namun, dia bukan orang yang mencurigakan. Murid ini adalah Masachika Kuze, yang sedang dalam perjalanan pulang setelah mengantar Alisa kembali ke rumahnya.

“Kenapa aku bilang 'Aku akan mendukungmu'. Kenapa aku bilang 'Ambil tanganku'. Memangnya kupikir siapa diriku ini? Mati saja. Ahh, bung, aku sangat menjijikan dan memalukan. Tidak, jika kita berbicara tentang sesuatu yang menjijikan, lalu aku yang sedang bergumam pada diriku sendiri seperti ini bahkan lebih menjijikan. Tck."

Dia memuntahkan kata-kata penyesalan yang intens dan membenci dirinya sendiri. Beberapa menit yang lalu, dia menunjukkan kepada Alisa pemandangan yang langka dari sisi jantannya, tapi sekarang dia sangat kesal pada dirinya sendiri. Kata-kata yang dia katakan padanya berulang-ulang di kepalanya, membuatnya merasa seperti dia akan mati karena malu dan menyesal akan hal itu. Dan di atas itu...

"Alya... Dia benar-benar mengatakan 'Aku menyukaimu'..."

Senyum yang dia tunjukkan padaku di jalan yang dipenuhi pepohonan itu seperti bunga yang sedang bersemi.

Masachika dapat dengan jelas mengingat sentuhan lembut yang dia rasakan di pipinya saat dia baru saja akan pergi. Dia tidak bisa tenang karena hal itu. Sampai sekarang, dia berpikir bahwa kalimat genit yang kadang-kadang dia katakan dalam bahasa Rusia hanyalah diucapkan untuk bersenang-senang. Dia pikir dia hanya bermain-main, menggodanya dengan jahat, bahwa dia mendapatkan sensasi dari apakah dia akan mengetahuinya atau tidak, dan dari betapa konyolnya hal itu yang tidak akan pernah dia/(Kuze) sadari.

Tapi kasih sayang yang dia tunjukkan sebelumnya jelas lebih dari itu... Kurasa itu adalah perasaannya yang sebenarnya...

“Tidak, itu tidak mungkin.”

Dia segera menepis pikiran tersebut.

Dia terjebak dalam panasnya momen saat itu juga, bukan? Tentunya dia sudah sadar sekarang dan merasakan rasa malu serta ras penyesalan yang sama. Ya, tidak mungkin dia tidak merasakannya.

Tapi meskipun dia meyakinkan dirinya sendiri tentang hal itu, ada fakta bahwa kasih sayang yang ditunjukkan Alisa... tentunya telah membuat jantungnya berdetak kencang.

"Kupikir… aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi..."

Bahkan, sejak gadis itu menghilang, dia tidak pernah menyukai siapa pun. Dia masih akan melihat seorang gadis dan berpikir, 'Dia cantik', atau 'Dia menawan', dia masih memiliki hasrat seksual untuk mereka. Tapi dia tidak pernah menyukai orang lain sebagai lawan jenis, dia tidak pernah merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

Aku tidak pernah berpikir bahwa seseorang akan menyukai seseorang yang mengerikan seperti diriku.

Di tempat pertama, Masachika membenci dirinya sendiri. Sulit baginya untuk membayangkan bahwa orang lain akan menyukai Kuze Masachika ini yang bahkan dia sendiri tidak dapat menyukainya. Selain itu, karena gadis dari masa lalunya itu, dia kehilangan semua kepercayaannya pada cinta. Dia berpikir bahwa sebagian besar waktu, perasaan romantis itu cepat berlalu dan akan hilang begitu ilusi dari pasangan mereka hancur. Terutama jika menyangkut perasaannya sendiri, dia... tidak mempercayainya sama sekali.

"... Benar-benar menyusahkan..."

Kata-kata itu tanpa sadar keluar dari mulutnya.

Cinta begitu tidak pasti dan ambigu sehingga hanya... bodoh membuang-buang waktu untuk hal itu. Hal itu hanyalah semakin menyusahkan saja.

Pertama-tama, dia bahkan tidak benar-benar menginginkan pacar, dan Alisa bahkan tidak mengakui cintanya padanya.

Kenapa aku harus memikirkan ini? Hahh... Jika aku terus berpikir seperti ini, aku tidak akan pernah mendapatkan pacar.

Pikiran mencela diri sendiri berputar-putar di kepalanya, membuatnya merasa semakin tertekan.

Ketika aku sedang dalam suasana hati seperti ini sebaiknya aku pergi menonton anime untuk menjernihkan pikiranku.

Dengan pemikiran itu, Masachika bergegas pulang. Dia membuka pintu depan, siap untuk melarikan diri ke dunia 2D, dan... dia membeku. Ada sepasang sepatu di pintu masuk yang seharusnya tidak ada di sana.

"...Bukankah dia memiliki sesuatu untuk dilakukan...?"

Dia tidak bisa membantu tetapi berubah pikiran ketika dia memikirkannya.

"Tidak, itu bahkan tidak terduga."

Jika apa yang terjadi hari ini adalah pengaturan untuk membuat Masachika bergabung dengan OSIS, maka masuk akal jika Yuki juga terlibat. Jika dia mau, dia mungkin bisa menjadi orang yang bertanggung jawab atas seluruh operasi tersebut.

"Aku dijebak... Atau lebih tepatnya, aku diseret masuk."

Dia menghela nafas ketika dia membuka pintu kamar mandi. Dan...

"Eh...?"

"Ah...?"

Mata mereka bertemu. Di depannya berdiri Yuki yang benar-benar telanjang, mengeringkan rambutnya dengan handuk. Matanya melebar kaget dan dia dengan cepat menutupi bagian depannya dengan handuk. Lalu...

"Kyaa! Onii—chan cabul!"

"Kamu... kenapa kau harus keluar sekarang."

"Aku sudah terekspos."

“Kamu mengekspos dirimu sendiri. Kamu mungkin mendengarku menutup pintu dan keluar dengan sengaja.”

Begitu dia dihadapkan dengan nada kesal, Yuki langsung menghentikan aktingnya dan menyeringai. Masachika hendak meninggalkan kamar mandi ketika dia tiba-tiba mulai melakukan peregangan.

"Hei hei, tolong tunggu. Tidakkah kamu ingin mencari tahu mengapa aku melakukan itu?"

"Aku memang ingin mencari tahu, tetapi pertama-tama kamu harus mengenakan sesuatu."

"Nah, sekarang, dengarkan aku, Masachika-kun. Sebelumnya, aku melihat sesuatu yang benar-benar mengerikan."

Dia pikir itu akan menjadi sesuatu yang bodoh, jadi dia bertanya kembali sambil menghadap jauh dengan tangan di kenop pintu. Yuki melihat Masachika yang tidak tertarik ini dan menutupi salah satu matanya dengan tangannya dan memberikan gusar apatis. Gerakan itu sangat elegan, membuatnya tampak seperti detektif terkenal yang baru saja menemukan kebenaran di balik sebuah kasus. Itu pemandangan yang cukup aneh, karena dia bisa melihat banyak hal yang tidak ditutupi oleh handuknya. Yuki tidak peduli, dan membuka matanya dan berteriak dengan tekad.

"Itu benar... Kita sudah hidup begitu lama di bawah satu atap tapi belum pernah ada event berjalan-jalan-sambil-ganti-pakaian!"

"Aku tidak pernah berpikir bahwa 'benar-benar mengerikan' yang kamu maksud akan seburuk itu!"

“Setiap saudara laki-laki harus berjalan masuk ketika adik perempuannya sedang berganti pakaian! Itu Harus!!!"

"Itu hanya dalam 2D! Dasar otaku bodoh!"

"Sama Denganmu!"

"Sialan! Itu lebih menyakitkan karena apa yang terjadi hari ini!"

Beberapa jam yang lalu, dia berada di toko teh dengan kakak perempuan cantik Alisa dan berpikir 'Ha! Apakah ini event ciuman tidak langsung?!', sesuatu yang hanya dipedulikan oleh seorang otaku. Kembalinya Yuki seperti ini rasanya seperti mengoleskan garam pada lukanya.

Yuki tiba-tiba meraih lengan Masachika dan membalikkannya. Dia secara refleks mengerang ketika dia melihat pose menggoda yang dia lakukan.

"Itu yang mereka sebut sebagai fan-service. Kyaa~."

“Kenapa kau membuatku berbalik? Mengapa?"

"Hah? Ini bukan adegan fan-service jika kamu tidak melihatku telanjang.”

“Melihatmu Telanjang?! Diam! Hanya otaku bodoh yang ingin melihatnya!"

"Jadi maksudmu kau ingin melihatnya."

“Ahhh, aku ingin. Aku pasti ingin melihatnya. Ya~y."

Yuki menghadap kea rah Masachika, yang seharusnya tidak dia lakukan, dan membuat tanda perdamaian. Berbicara secara objektif, ini jelas bukan sesuatu yang harus dilakukan oleh seorang saudara kandung.

"Hmm, ini adalah adegan fanservice yang sangat nyata!"

"Kaulah alasannya kenapa hal ini bisa terjadi!"

Dia dengan cepat membentak Yuki, yang mengangguk dengan ekspresi serius. Dia menghentikan sandiwaranya dan tersenyum jahat.

“Disamping bercandaan, aku membantunya menyerangmu secara diam-diam, jadi ini permintaan maafku, Onii-chan.”

"Jangan tunjukkan tubuh telanjangmu sebagai permintaan maaf, tahu..."

"Oh, boo, masuk akal jika kamu benar-benar membiarkanku memberi tahumu. Bukankah kamu menatap setiap bagian dari tubuhku dari atas sampai ke bawah?"

"Yuki... Karena situasi yang kita hadapi, aku hanya akan memberitahumu ini."

“Oh, ada apa, Ani-ki? Jangan mencoba terlihat keren sekarang.”

"Menunjukkan padaku segalanya... hanya membuatku kecewa. Hal ini hanya setara dengan kerusakan sebuah lemari kecil."

“..Begitukah? Aku tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya."

Untuk beberapa alasan, kedua saudara kandung itu berbicara satu sama lain dengan ekspresi serius di wajah mereka. Seolah-olah percikan api terbang di antara mereka.

Dan dengan ekspresi puas di wajahnya, Masachika tiba-tiba meninggalkan ruang ganti, ketika—

"Tunggu sebentar. Aku tidak bodoh, oke? kamu melihatnya, bukan? kamu benar-benar melihat tubuhku dari atas sampai ke bawah, bukan?"

"...Aku hanya melihat dadamu."

"Jadi kamu mengakuinya! Kamu fetish-payudara!"

"Diam kau, jalang mesum."

"Aku jalang perawan, bukan jalang mesum!"

"Retort macam apa itu! Atau lebih tepatnya, pakailah pakaianmu, bodoh!"

Masachika menutup pintu ruang ganti dengan bantingan begitu dia selesai meneriakinya. Dia malah mencuci tangannya di wastafel dapur, lalu dengan cepat pergi ke kamarnya.

“Haa…”

Dia menghela nafas sambil melemparkan tasnya ke lantai. Dia melepas blazer dan kemejanya, mengenakan tank top, dan melepas celananya

"Nah, ini dia!!"

"Uuhh?!"

—Dan Yuki tiba-tiba menendang pintu seperti biasa. Dia datang ke kamarnya, rambutnya masih basah dan dia hanya mengenakan pakaian dalam serta kaos. Masachika sangat terkejut sehingga dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tempat tidurnya, celananya masih di sekitar pergelangan kakinya. Yuki memiliki senyum jahat di wajahnya saat dia melihat keadaan menyedihkan yang dia alami.

“Hehehe, kamu benar-benar memiliki tubuh yang bagus, Nii-chan.”

"Kamu menakutiku! Apa yang kamu lakukan tiba-tiba!"

"Nah, ini adalah kesempatan sempurna untuk mengadakan event 'Adik kecil mengintip kakak laki-lakinya berganti pakaian'. Tentu saja, adik perempuan mengintip melalui celah di pintunya dan menggunakan cermin panjangnya untuk melihat sisi depan tubuhnya."

"Seberapa menyenangkannya untuk bisa melihat pakaian dalam kakak laki-lakimu, dan bahkan secara tidak langsung?"

“Ya~h, aku penasaran~”

Saat dia mengatakan ini, dia melihat tubuh bagian bawahnya sambil menghela nafas.

“Serius… Kau tidak bereaksi sama sekali saat melihat adik perempuanmu telanjang? Apa ada yang salah dengan barangmu/(penismu)?”

“Tidak ada yang salah dengan itu, itu sebabnya milikku tidak bereaksi sama sekali. Tidak ada kakak laki-laki yang benar-benar ingin melihat adik perempuannya telanjang.”

“Tapi aku terangsang dari tubuh Onii-chanku!”

"Yup, aku akan berpura-pura tidak mendengarnya."

"Tapi aku terangsang dari tubuh Onii-chan! Aku terangsang!!!"

“Jangan mengulanginya! Aku tidak ingin itu!"

"Tapi astaga~... Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan kupaksa kamu lakukan dengan tubuhmu itu tanpa malu-malu ketika aku sudah menjadi ketua OSIS... Ah, buku itu benar-benar menunjukkan banyak hal padaku..."

“Kamu juga terangsang oleh itu! Kapan kamu mengambil atribut 'kepala rusak/(gila)’ ?!"

[Note: Masachika mengatakan 'atribut', yang digunakan dalam konteks video game. Mereka berdua adalah otaku sehingga terkadang mereka berbicara satu sama lain dengan cara yang aneh.]

Masachika dengan cepat menarik celananya ke atas saat dia membentak Yuki. Dia memberikan senyum pasrah dan membuang muka.

“Kembali ketika kita di kamar mandi, kupikir mungkin, kamu bahkan tidak memilikinya. Tetapi sekarang setelah aku melihatnya dengan baik, aku dapat melihat bahwa itu pasti ada di sana. Dan ukurannya juga bagus."

“Kau terlalu jauh, bukan? Maksudku, aku tidak tahu kamu punya buku tentang permainan S&M di kamarmu!”

Meskipun itu bukan kamar tidurnya, Yuki memiliki kamar untuk dirinya sendiri di rumah keluarga Kuze. Tidak ada apa-apa selain tempat tidur dan semua koleksi otaku-nya, menjadikannya ruangan hobi yang sempurna. Masachika meminjam manga dan buku novel dari sana sepanjang waktu, jadi dia tahu persis apa yang dia miliki. Sejauh yang dia tahu, seharusnya tidak ada buku seperti itu sama sekali. Ketika dia menyipitkan matanya karena curiga, dia mengangguk.

"Yah begitulah. Tapi aku menyimpannya di kantor Ayah."

"Ap-, serius ?!"

"Tapi aku sudah bertanya sebelumnya? Ayah bilang, 'Kamu bisa menyimpannya di sini jika kamu tidak punya tempat di kamarmu'."

"Tapi sepertinya, aku tidak mengira kamu akan menyimpan buku-buku semacam itu!"

“Ayah berkata, 'Yah, setiap orang memiliki hobi yang berbeda...', kan?”

“Bagaimana itu bisa baik-baik saja, Ayah! Putrimu sudah tercemar!!!"

“Dia juga memberitahuku, 'Ahh, itu merepotkan, kan...'. Dia berkata seperti ini, dengan senyum lelah, dan dia tampak agak sedih. Rasanya seperti garis rambutnya surut di depan mataku."

“Kau bahkan menyadarinya, dasar brengsek. Dan jangan beritahu dia tentang garis rambutnya. Malulah sedikit.”

Dia menertawakan kata-kata Masachika dan meninggalkan kamarnya, dengan cepat dia kembali dengan pengering rambut dan sikat rambut. Dia berbicara keras dengannya saat dia dengan hati-hati mengeringkan rambutnya yang panjang.

"Ngomong-ngomong, Ani-jya~"

"Apa itu?"

“Sekarang setelah kamu berbicara dengan kandidat ketua OSIS dan Masha-san, apakah kamu ingin bergabung dengan OSIS?”

“...Ahh, jadi, uh,...”

“Hm~?”

Yuki mematikan pengering rambut dan mendongak ketika Masachika tiba-tiba menjadi pendiam dan canggung. Dia menatap adiknya dan memutuskan untuk menceritakan semuanya.

“Aku akan membantu Alya menjadi ketua OSIS.”

Yuki berdiri dalam diam. Dia membeku, dan matanya melebar. Tapi itu sangat wajar bahwa dia akan begitu. Membantu Alya menjadi ketua OSIS menjadikan Yuki musuhnya karena dia mengincar posisi yang sama. Dari samping, itu pasti terlihat seperti dia mengkhianatinya.

"Kamu-"

"Kamu?"

Dia secara mental mempersiapkan dirinya ketika dia akan mengeluh atau marah padanya, tapi Yuki tiba-tiba melemparkan dirinya ke tempat tidurnya. Dia membenamkan wajahnya di bantalnya dan berteriak.

"Alya-san mencuri Onii-chaaaaaaan-ku!!!"

"Yah, mencuri itu sedikit..."

Ketika Masachika dengan tenang menjawabnya, Yuki tiba-tiba mengangkat kepalanya dan meletakkan kedua tangannya di payudaranya.

“Sialan, kamu gadis cantik dengan payudara bagus! Apa kau tidak puas dengan C-cupku, Onii—chan?! E-cup-nya (diperkirakan) dengan mudah mengalahkanku!"

“Jangan mengekspos ukuran payudaramu seperti itu!”

"Bagaimana kamu begitu tenang, bra-ther! Tidak, saudara! C-cup yang bisa kamu peras jauh lebih baik daripada E—cups yang tidak akan pernah bisa kamu sentuh!"

"Tapi aku tidak ingin mengambil keduanya ?!"

“Atau apa yang kamu inginkan?! Kamu ingin D-cups Ayano juga?! Kamu ingin memiliki harem dengan mereka berdua atau sesuatu seperti itu? Kamu bajingan jelek dan gendut!”

[Note : ayano ntar muncul di pertengahan novel]

"Aku benar-benar akan mendapatkanmu kali ini, kau—"

“Yaaaa, ayolah, hohhhh! Tolong perlakukan aku dengan lembut~!!!”

"Kenapa kamu sangat bersemangat!"

Masachika menjawab dengan marah dan Yuki berdiri berlutut di tempat tidurnya. Dia tiba-tiba memeluknya dengan kedua tangan dan menurunkannya sambil berputar.

"Ehh~? Apa yang kamu lakukan~? Kamu akan mengambil pengalaman pertama dari adik kecilmu ketika payudaranya disentuh~?"

“Pertama kali, ya. Kamu terdengar seperti anak SMA yang bodoh dan horny.”

"Whaaa? Tapi Onii-nii sudah mengambilnya ketika di sekolah dasar~”

"Aku tidak ingat itu!!!"

Ketika Yuki mendengar itu, seringai menyebalkannya berubah menjadi 'Ehh?', yang membuat Masachika menjadi 'Eh? Betulkah?' dan berusaha lebih keras untuk mengingatnya.

"Onii-chan... Apa kau melupakannya? Saat aku masih kelas dua..."

"Eh... eh?"

"Kita bertemu satu sama lain ketika kita sedang bermain tag... kamu jatuh dengan wajahmu di antara kakiku dan meremas payudara kananku!"

“Aku tidak ingat ada keajaiban seperti itu! Jangan membuat-buat event keberuntungan BS! Dan ayolah! Asmamu sangat buruk di kelas dua sehingga kamu hampir tidak bisa keluar!"

“Dan sekarang aku gadis paling sehat di sekolah! Aku tidak pernah flu sejak masuk SMP!”

Masachika menatap Yuki dengan kecewa saat dia berdiri berlutut dan dengan bangga membusungkan dadanya.

"Ya, tapi tidak bisakah kamu sedikit lebih rendah hati tentang hal itu?"

"Ya, aku! Baik denganmu maupun di sekolah!”

"Aku merasa agak buruk sekarang."

“Jangan! Manjakan aku sebagai gantinya!"

Yuki mengulurkan pengering rambut dan menyikatnya dengan mendengus. Dia tahu apa yang dia maksud, jadi dia mengambilnya darinya sambil menghela nafas dan duduk di tempat tidur.

“Hehe, tolong perlakukan aku dengan baik~”

Yuki tampak bahagia saat dia dengan malas bergerak mendekati Masachika dan duduk membelakanginya.

"...Aku tidak pandai dalam hal ini."

Dia menyalakan pengering rambut dan dengan hati-hati menyisir rambut hitam panjangnya. Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat, tetapi ketika Masachika mengubah suhu pengering menjadi dingin, Yuki tiba-tiba angkat bicara.

"Benar... Jadi kamu akan menjadi anggota OSIS Alya-san."

"Ahh... Tidak juga."

“Ya~? kamu seharusnya tidak merasa buruk? Beberapa persaingan saudara adalah berkah ilahi, bukan? ”

"Ha ha ha..."

Masachika tertawa dengan terpaksa pada kata-kata Yuki yang dipengaruhi dari Anime.

"...Aku akan mengatakan ini untuk jaga-jaga, Yuki. Bukannya aku tidak menyukaimu atau apapun, oke?"

“Oh, aku mengerti~? Onii—chan mencintaiku, kan?"

"...Yah..."

“Hehe, sisi buruk Onii-chan.”

"Diam."

Yuki tidak bisa menahan tawanya saat dia mengguncang tubuhnya karena digelitik. Kemudian dia menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi saat dia berdiri tegak di atas lututnya.

"Oke, aku baik-baik saja sekarang."

"Sungguh?"

"Ya, terima kasih."

Dia mengambil pengering rambut dan sikat dari Masachika dan melepaskan kabelnya. Dia berbalik dan mulai berjalan menuju pintu.

"Yah, kurasa kita adalah rival mulai sekarang... Ah, benar."

"Ya?"

“Aku baik-baik saja dengan sedikit kecurangan di sana-sini. Jika kamu bosan dengan Alya-sen, aku akan selalu di sini, oke?"

“Tidak, curang itu tidak baik. Aku tidak akan melakukan itu."

"Haaa, toh pada akhirnya kau akan kembali bersamaku."

"Kamu benar-benar baik."

“Ehehe. Sampai jumpa, bye nyaa~"

Dia tertawa menggoda mendengar jawaban kakaknya dan meninggalkan kamarnya. Ketika dia menutup pintu, dia mengepalkan tinjunya, berbisik pada dirinya sendiri sehingga dia tidak mendengarnya.

"Ahh... Jadi dia menemukan seseorang untuk dapat memotivasinya."

Dia berbalik dan berbicara dengan lembut kepada kakaknya dari luar ruangan.

"Aku ikut senang untukmu, Onii-chan."

Matanya baik dan penuh perhatian, dan juga suaranya dipenuhi dengan cinta. Setelah beberapa detik menghadap ke kamar kakaknya, Yuki berbalik dan berjalan menuju kamarnya sendiri.

“Ahh~, aku tidak cukup baik, ya…”

Dia menutup pintunya dan berbisik pada dirinya sendiri saat dia bersandar di sana.

Dia menatap kakinya sebentar, masih bersandar di pintu, tapi kemudian dia mendongak lagi.

"Tapi, yah..."

Dan pada saat itu, tidak ada cinta atau kebencian yang tersisa di benaknya. Sebaliknya, keseriusan yang menentukan dan menakutkan menggantikan ekspresi sebelumnya.

“Tapi, aku tidak akan kalah.”

Raut wajahnya saat dia mengatakan ini adalah pemandangan yang pantas untuk dilihat... Itu seperti keseriusan Masachika ketika dia memberitahunya ketika dia ingin untuk membantu Alisa.

“Nn...”

Keesokan paginya, Masachika terbangun karena alarmnya berbunyi. Dia berguling mengantuk dan menghentikan alarm.

“Haa…”

Dia duduk dan membuka gordennya. Saat dia menyipitkan mata dari matahari pagi yang cerah, dia tiba-tiba menyadari sesuatu. Adik perempuannya, yang biasanya datang dengan ribut untuk membangunkannya, tidak ada di sana.

“…”

Sekarang dia memikirkannya, Yuki bertingkah agak aneh tadi malam. Biasanya mereka akan bersemangat mendiskusikan acara tb setelah mereka menontonnya bersama, tapi tadi malam, dia dengan cepat tertidur tepat setelah mereka menonton anime larut malam favoritnya.

"Hahh..."

Mungkin dia lebih dari sekadar terkejut dengan pengkhianatanku. Dia bilang dia tidak keberatan, tapi aku mungkin telah menyakitinya.

Pikiran seperti itu muncul di benaknya saat dia menggaruk rambutnya yang berantakan dengan cemberut. Saat dia melakukan ini, tidak ada tanda-tanda Yuki akan datang. Itu benar-benar sunyi di luar kamarnya. Mungkin dia meninggalkan rumah lebih awal karena dia merasa tidak nyaman melihatnya, atau dia mungkin masih tertidur karena dia sulit tidur tadi malam...

"Ah..."

Dia membayangkan Yuki menangis di tempat tidurnya. Dia merasa sedikit lebih baik ketika dia berpikir bahwa saudara perempuannya bukan tipe orang yang melakukan itu, tetapi dia masih merasakan sakit yang tajam di dadanya. Dia bangun dari tempat tidur, berpikir dia harus melakukan sesuatu untuk menghiburnya, tetapi pada saat itu ...

"Wah?!"

Tiba-tiba, seseorang meraih pergelangan kakinya, dan dia tersandung ke belakang. Dia berlari ke sisi lain ruangan dengan kaki yang berat, memegang tangan ke dadanya. Jantungnya berdetak dengan cepat karena panik. Kemudian dia melihat Yuki dengan senyum iblis, satu tangan mencuat dari bawah tempat tidurnya.

“Bahahaha! Kamu pikir kamu akan mati karena monster?! Itu sangat lucu! Aku adalah seorang wanita yang menepati kata-kataku!"

"Eh, kamu...!"

Tawa sombong Yuki membuatnya ingat apa yang dia katakan tempo hari. Yuki memberitahunya, 'Aku akan masuk ke kolong tempat tidurmu dan memegang pergelangan kakimu saat kau bangun, oke?'. Dia berpikir bahwa mungkin ini adalah balasan untuk menyakitinya kemarin, tapi sekarang dia memikirkannya... Adiknya bukanlah tipe orang yang akan tertekan karena hal seperti itu!

"Bahaha! Haahaha... Haa..."

Kemudian tawanya tiba-tiba mereda dan lengannya jatuh ke lantai dengan sebuah pukulan. Saat dia dengan malas menggerakkan tangannya kembali ke bawah tempat tidur, dia tersenyum menggoda.

"Bantu aku berdiri."

"Eh?"

"Aku tidak bisa keluar, kau tahu. Jangan membuatku mengatakannya, itu memalukan..."

Sepertinya dia menemukan ruang di antara kotak kardus pakaian dan buku teks lamanya yang dia simpan di bawah tempat tidurnya. Dia entah bagaimana berhasil menekan dirinya ke sana, tapi itu mungkin terlalu ketat, jadi dia tidak bisa keluar. Dia melambaikan tangannya dan tersenyum, seolah berkata, 'Hehe, aku dalam masalah, ya?'. Masachika tersenyum lembut sebagai tanggapan, dan... meraih selimut dari tempat tidurnya dan meletakkannya di wajah Yuki.

“Ge—! Apa yang kamu lakukan—!!!"

"Kamu-! Aku akan menguburmu! Aku akan menguburmu! Kamu-!”

“Kyaaaa! Baunya seperti laki-laki! Aku akan hamil!”

“Tentu saja kamu akan! Kamu hanyalah gadis kecil terlindung yang dimana neneknya memberikannya pendidikan seks yang buruk!"

"Aku benar-benar gadis yang terlindung, tapi lalu kenapa?!"

"Oh, gadis yang terlindung, ya. Kalau begitu, biarkan kamu tetap terlindung di bawah tempat tidurku!"

"Kyaaaa! Berheeentiii!!!"

Pada akhirnya, tidak ada perasaan yang keras ataupun canggung. Kakak beradik itu terus mengacau satu sama lain sampai sebuah mobil datang untuk menjemput Yuki.


<    Sebelumnya    |    Index    |    Selanjutnya    >

You may like these posts

7 Komentar

  1. ロイス
    Lanjut min
  2. lee
    gasken
  3. Siesta
    di tunggu chapter 2
  4. Asborn
    Rinduku Onee-chan 😕
    Kapan kau muncul lagi Onee-chan 😩
  5. Flauros
    lanjut
  6. Ggg
    Chapter 2 up kapan min?
  7. Oniscorn
    Lanjut, semangat min!