Yumemiru Danshi wa Genjitsushugisha Volume 1 - Chapter 1
Chapter 1 - Setelah Stardust
Sekarang setelah aku naik ke
sekolah menengah, apakah aku akan melihat mimpi di dunia ini lebih lama lagi? Aku
yakin bahwa, pada saat itu, harapanku untuk kehidupan sekolah menengahku jauh
lebih besar daripada orang lain di sekitarku. Terkait dengan hal tersebut, itu
mencapai tingkat di mana aku lupa untuk melihat kenyataan di depanku dengan
benar. Ini adalah sesuatu yang menakutkan, izinkan aku memberi tahumu. Aku
tidak ingin orang-orang di sekitarku memberikan evaluasi mereka sendiri tentangku
pada saat itu, dan pada akhirnya itu akan hilang begitu saja sebagai bagian
dari masa laluku yang kelam.
Namun yang paling menakutkan —
adalah bahwa aku benar-benar terbangun dan menghadapi kenyataan selama waktu
itu. Itu adalah sesuatu yang hanya bisa kukatakan secara retrospektif.
*
Di bawah matahari pagi, para
siswa sekolah menengah sedang berjalan di samping jalan pepohonan, dipenuhi
dengan pikiran dan perasaan yang damai. Namun dua siswa terlihat menonjol,
karena mereka menyebabkan keributan.
“Tunggu sebentar, Aika!”
“Jangan terlalu dekat denganku!
Tinggalkan aku sendiri!"
Itu adalah sepasang orang, yang
terdiri dari seorang siswi berambut coklat kemerahan, melarikan diri dari
seorang anak laki-laki berambut coklat, rambutnya terlihat seperti diwarnai
belum lama ini. Dari perspektif orang luar, mereka mungkin tampak seperti
pasangan yang sedang bertengkat, tetapi keduanya sebenarnya tidak berada dalam
hubungan seperti ini.
Dengan sinar matahari yang
menyinari rambut gadis tersebut, itu membuatnya terlihat lebih merah dari
apapun. Saat ini, dia bergegas melewati sekelompok siswa dengan ekspresi yang tegas,
tetapi di luar situasi ini, semua orang di sekolah melihatnya sebagai gadis yang
terlihat cantik. Meski terlihat lemah dan kurus, dia memiliki kekuatan yang
cukup untuk melepaskan lengan bocah yang mencoba mencengkeramnya.
Pada saat yang sama, anak
laki-laki itu tidak menyerah. Namanya Sajou Wataru. Dia memiliki tampilan yang
sedikit lebih bergaya daripada orang-orang di sekitarnya, dan tipe yang mudah
jatuh cinta pada seorang gadis cantik. Padahal, dia sudah jatuh cinta dengan
gadis itu — Natsukawa Aika — sejak mereka duduk di bangku SMP. Itu sebabnya dia
mengakui cintanya dengan cepat, berharap mendapat kesempatan untuk berkencan
dengannya, tapi ... dia ditolak tanpa sedikitpun harapan. Namun, dia tidak
menyerah. Setiap hari, dia akan berlari ke arahnya, mendekatinya berulang kali.
Penting untuk diperhatikan di
sini adalah bahwa Natsukawa Aika adalah keindahan/(kecantikan) yang sempurna.
Itulah mengapa dia memutuskan untuk bersekolah di sekolah menengah yang sesuai
dengan kecerdasannya, dan untuk mengimbanginya, Wataru belajar seolah-olah
hidupnya bergantung padanya, mengaturnya ke sekolah yang sama dengannya.
Kekuatan kehidupan adalah hal yang menakutkan.
“Hehe… mereka melakukannya
lagi.”
“Mereka seharusnya sudah
menikah.”
Bagi siswa perempuan lain yand
ada di sekitar, itu adalah pemandangan yang menghangatkan hati (UwU). Jika Aika
populer karena penampilan dan kepribadiannya, dia akan menjadi sasaran kecemburuan
dan rasa iri dari mereka, tetapi karena keduanya telah bertingkah seperti ini
sejak hari pertama, mereka tampak seperti pasangan bagi semua orang di sekitar
mereka. Faktanya, anak laki-laki lain sudah menerima kenyataan bahwa Wataru
adalah pacar Natsukawa Aika, dan tidak mencoba apapun.
Hari ini seperti biasa, Wataru
tanpa henti mengejar Aika.
“Hei, pada akhirnya kapan kamu
akan menjadi pacarku !?”
“Seolah-olah aku mau, idiot! Perhatikanlah/(lihatlah)
baik-baik kenyataannya! ”
“Ehhh !?”
“Kenapa kamu begitu terkejut
sekarang !?”
Nah, bagi kamu yang sedang menonton
ini, apakah kamu tahu pepatah 'Saat cinta seratus tahun telah mendingin'? Itu
berarti cintamu kepada seseorang telah mati karena kamu sudah melihat sisi yang
tidak menguntungkan/(ingin di lihat) dari diri mereka.
Namun, semuanya sedikit berbeda
sekarang. Benar-benar terpesona oleh keindahan yang sempurna ini, bocah lelaki
itu terus hidup dalam mimpi dan fantasinya, alasannya telah dicuri darinya, dan
lupa untuk melihat kenyataan di depannya.
Sekarang, mari kita amati momen
di mana dia tiba-tiba tersadar.
“Ayolah, sedikit melamba—”
Suara ledakan seperti Kembang
Api yang dinyalakan bergema. Sesuatu yang menyerupai debu bintang memenuhi
pandangan Wataru. Pada kenyataannya, sebuah bola sepak telah melesat melewati
dia dan matanya membentur ke dinding, dan memantul lagi, saat bola itu
menggelinding kembali ke klub sepak bola yang saat ini sedang berlatih. Pada
saat yang sama, sesuatu yang telah dilupakan Wataru selama bertahun-tahun tiba-tiba
memenuhi kepalanya. Tentu saja, dia tidak terluka sama sekali. Sederhananya,
dia telah kembali ke kenyataan.
“H-Hei, kamu baik-baik saja !?”
Aika terkejut dan berlari menuju Wataru.
Setelah melihatnya dari ujung
kepala sampai ujung kaki, memastikan bahwa dia tidak terluka, Aika menghela
nafas, dan mengeluh.
"Dengar ... Aku tahu
betapa putus asanya kamu untuk mendapat perhatianku, tapi tidak perlu bereaksi
berlebihan seperti itu!"
“Y-Ya…”
“Astaga… Aku membuang-buang
waktuku untuk mengkhawatirkanmu! Berhenti mengejarku, ya! ”
“……”
Setelah membuat Wataru
cemberut, Aika melanjutkan ke depan. Di saat yang sama, Wataru berdiri diam,
hanya menatap punggungnya. Tepat ketika dia telah mencapai jarak di mana
suaranya tidak akan mencapainya, dia akhirnya membuka mulutnya.
“Y-Ya… Maaf…” Dia akhirnya
berhasil mengumpulkan kata-kata lagi.
Namun, punggung Aika sudah
tidak terlihat lagi. Meski begitu, Wataru tidak bergerak sama sekali, berdiri
di sana dengan linglung.
*
Aku kembali ke kenyataan. Aku tahu apa yang kukatakan
mungkin terdengar gila, tetapi ini adalah cara terbaik untuk menggambarkan
situasi yang kualami saat ini. Untuk sesaat, aku tidak tahu apa yang sedang
terjadi. Sebuah suara yang mencolok dan bergema menyerangku, seperti ada sesuatu
yang pecah, dan aku butuh waktu sedetik untuk menyadari bahwa ini adalah bola
sepak. Biasanya, itu bukanlah reaksi yang istimewa, namun itu mengirimkan
getaran ke seluruh kepalaku, membuatnya terasa mati rasa hingga aku bahkan
tidak bisa bergerak lagi.
Eh, apa ini?
Aku sama sekali tidak merasakan
adanya kejanggalan/(keanehan). Jika aku harus mengungkapkannya dengan
kata-kata, itu seperti aku telah dilahirkan kembali. Bukankah ini terlalu gila?
Untuk sesaat, aku berpikir bahwa aku mungkin telah mendapatkan kembali ingatan
tentang kehidupanku sebelumnya, tetapi bukan itu masalahnya. Aku dapat
mengingat dengan sempurna apa yang kulakukan sampai sekarang, apa yang kupikirkan,
dan dengan alasan seperti apa aku berakting. Aku juga tidak dirasuki oleh roh/(hantu).
Pengaruh terlalu banyak membaca novel ringan? Tidak, yang terakhir kubaca
adalah di sekolah menengah.
Aku tidak tahu kenapa, tapi
pemandangan di depan mataku terlihat terlalu nyata. Sebelumnya, begitu… Aku
tidak tahu… berkilau dan lembut? Apa yang kukatakan, aku tidak tahu.
Dari bagian dalam sekolah, aku
bisa mendengar denting lonceng.
“Ah… harus cepat/(bergegas).”
Itu adalah hari yang sama
seperti biasanya, kehidupan yang sama dengan yang kujalani sebelumnya.
Seharusnya terasa persis sama, namun… pemandangan di depan mataku tampak jauh
berbeda dari sebelumnya. Bahkan setelah berlari menuju ruang kelas, aku terus
menampar pipiku untuk menjaga kesadaranku akan kenyataan. Jika tidak, aku
mungkin tidak akan sampai di ruang kelas sama sekali.
Saat aku mencapai tangga di
sebelah kelas, itu tepat sebelum kelas ... Aneh, aku merasa seperti datang ke
sekolah cukup awal untuk bertemu Aika ...
"Baiklah, terlambat satu
detik."
"Tidak tepat waktu,
ya."
Aku melompat ke dalam kelas,
tetapi wali kelasku baru saja masuk ke dalam kelas. Sepertinya aku hampir tidak
berhasil tepat waktu. Kupikir ini adalah pertama kalinya aku terlambat sejak aku
mulai masuk sekolah menengah, yang cukup mengecilkan hati.
“Kamu sibuk mengejar
Natsukawa-san lagi, bukan …… Tunggu, dia sudah ada di kursinya? Itu hal yang baru,
oke. Apakah terjadi sesuatu? ”
“Eh? Tidak ada. Aku hanya
terlambat saja. ”
"Jangan terlambat juga,
oke."
Guru menampar kepalaku dengan
catatan mereka, yang menimbulkan tawa di dalam kelas. Duduk di tengah ini adalah
Aika, memelototiku. Aku menatapnya sekilas, yang mana aku sendiri memiringkan
kepalaku karena ada sesuatu yang terasa aneh.
“Segera ke tempat dudukmu.”
“Ya, maafkan aku.”
“Sheesh…”
Tempat dudukku tepat di sebelah
kecantikan yang terkenal itu. Diejek dan dicemooh dalam perjalanan ke sana, aku
sekilas memandang Aika, tapi dia hanya mengalihkan pandangannya, jelas dalam
suasana hati yang buruk. Rasanya seperti aku akan memanggil ular keluar dari
ember jika aku mengatakan lebih dari ini, jadi aku tetap diam, dan malah
mendengarkan ceramah guru.
*
“Hei, kamu benar-benar terluka
sebelumnya, kan?”
"Tidak, kupikir biasa saja...
kurasa."
"Kamu pikir…?"
Setelah pertemuan pagi, Aika, yang
cukup jarang, berjalan ke arahku. Dia menyuruhku berdiri, dan memaksaku untuk
memberikan uang kembalian kecil untuk makan siangnya — Tidak begitu juga, tetapi
dia malah menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki lagi, memastikan bahwa
aku benar-benar tidak terluka. Kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti itu
padaku… Ah !? Jangan beri tahu aku, apakah dia benar-benar menyukaiku… Tidak
mungkin. Aku ditolak seperti orang bodoh, bukan.
"Kalau begitu, aku akan
membalas budi dan—"
"Duduk."
Aku ingin memastikan apakah
Aika terluka di sekitar tubuhnya, tetapi dia hanya mendorong dadaku, menurunkannya
ke kursi. Aku hampir bisa melihat jari kakinya… H-Hah? Mataku rasanya seperti
berkedip… Ya, terserahlah. Akan memperbaiki/(pulih) dengan sendirinya.
"Aku idiot karena
mengkhawatirkanmu." Aika berkata sambil pergi.
Aku melihatnya berjalan ke
kejauhan, dan menunggu debu bintang di pandanganku menghilang.
*
Tak lama kemudian, periode
pertama berakhir. Aku mengerti mengapa bahasa Jepang Modern penting untuk kelas
bahasa Jepang, tetapi mengapa kita belajar tentang sastra klasik dan klasik
Tiongkok? Itu adalah kata-kata dan istilah yang tidak akan pernah kami gunakan
lagi, jadi apa yang harus kulakukan dengan mengetahuinya? Mengapa tidak lebih
fokus pada cerita pendek Jepang Modern daripada cerita pendek Cina? Apakah hanya
aku?
“Fiuh…”
Aku bahkan tidak punya waktu
untuk istirahat hari ini. Aku ingin pergi ke toilet, ketika Aika muncul di
hadapanku, selangkah lebih maju. Dengan ekspresi kaget, dia menatapku.
"Hei! Jangan hanya
mengikutiku! ”
“Ah, tidak, aku sedang menuju
ke toilet.”
“Eh… Eh?” Aika membeku.
Suasana yang canggung
mengikutinya, membuatku ingin segera melarikan diri. Aika pasti menyadari bahwa
dia salah paham, saat dia memelototiku dengan pipi memerah, mengangkat suara
bergetar.
“Kalau begitu katakan lebih
cepat!”
“Y-Ya…”
Aku tahu bahwa ini mungkin
menyimpang dari polaku yang biasa, tetapi aku benar-benar tidak pernah berpikir
kamu dapat meminta seorang anak laki-laki untuk berkata 'Aku akan pergi ke
toilet', bukan? Aku membayangkan pemandangan surealis itu, dan menyelinap
melewati Aika yang beku dan kaku. Ketika aku sampai di pintu toilet, Yamazaki
dan orang-orang lain dari kelasku menarikku masuk.
“—Hei, apa terjadi sesuatu di
antara kalian berdua?”
“Di antara keduanya… Maksudmu
aku dan Aika?”
"Baik. Kupikir mungkin
kamu sedang dalam pertengkaran sepasang kekasih atau semacamnya." Yamazaki
bertanya, menyeringai lebar.
Matanya itu… Dia pasti berpikir
dia menemukan sesuatu yang menarik… Kemudian lagi, aku ingin menanyakannya
sendiri.
Bukankah ini sama seperti biasanya?
“Hmm… Nah, setelah kamu mengatakannya.”
Karena aku membalas dengan
tenang, Yamazaki sepertinya setuju denganku. Tapi, hal yang sama tidak bisa
dikatakan tentang pria lain yang bersamanya. Dia menempel padaku, dan mengamati
ekspresiku dengan cermat. Hei, aku tidak bersandar seperti itu ...
“Sebelumnya, Natsukawa-san akan
selalu marah padamu, namun kamu masih akan melekat padanya, kan?”
“… Nah, setelah kamu
mengatakannya.”
“Reaksi apa itu…”
Dia benar. Bahkan ketika aku
melihat Aika diganggu oleh pendekatanku, aku tidak pernah berpikir 'Baiklah,
saatnya menyerah'. Bahkan jika dia marah, aku mungkin merasa senang hanya
mengetahui bahwa perasaannya ditujukan kepadaku. Itu hanya menunjukkan betapa
aku menyukai Aika — Hm? Suka?
“Hei, apa sepertinya aku punya
perasaan pada Aika?”
"Hah? Apa sih yang kamu
bicarakan? Bukankah kau sangat menyukainya? "
"…Baik. Aku suka dia.
Begitu besar sehingga aku ingin melakukan pekerjaan misionaris. "
“Hei sekarang, tidak ada yang
memintamu untuk terus membual tentang… —Pekerjaan misionaris !?”
Seperti yang dia katakan, aku
suka Natsukawa Aika. Aku suka betapa bermartabatnya dia bertindak, dan
bagaimana dia bisa benar-benar perhatian pada saat-saat tertentu. Itulah
mengapa aku berusaha sekuat tenaga untuk mengajukan banding dan membuatnya menatapku/(memperhatikanku).
Namun, meskipun aku menyukainya, aku tidak ingin lari ke tempatnya sekarang.
Ini berbeda dengan keadaan yang ada selama ini. Aku ingin bersamanya, tapi itu
bukanlah emosi yang aku rasakan sampai sekarang. Apa ini berarti perasaanku
pada Aika sudah lenyap? Apa yang sedang terjadi…
“Sepertinya kamu tidak berjuang
sama sekali.”
"Ya, setuju."
"Sebagai orang yang
dimaksud, aku merasakan hal yang sama."
"Apa yang kamu
bicarakan?"
Dengan suasana aneh yang terjadi,
kami berpisah. Bagaimanapun, istirahat akan segera berakhir, jadi kami kembali
ke ruang kelas. Di sana, aku merasa Aika melirikku dengan curiga. Lebih
perhatian lagi, ayo.
*
Istirahat makan siang pun tiba.
Meskipun istirahat terakhir tidak terlalu lama, perutku sudah keroncongan sejak
periode ke-4. Batin manusiaku selalu membakar/(membuang-buang) energi. Sekarang
setelah diputuskan, lebih baik pergi menemui Aika dan — Aika? Apa yang kurencanakan?
Dia menyiapkan kotak makan siangnya di atas meja. Yah, tidak penting apa yang
dia lakukan. Bagaimana aku menghabiskan waktu istirahat makan siangku sejauh
ini?
'—Baiklah, ayo makan bersama,
Aika!'
“—Ahh.”
Benar, aku selalu mengajak Aika
keluar untuk makan. Ketika aku tanpa sadar meliriknya, mata kami bertemu. Dia
menatapku dengan kaget, dan aku bertanya-tanya apakah aku harus mengundangnya,
tapi kata-kata itu tidak keluar. Malahan, anehnya aku merasa malu, dan kepalaku
pusing.
“A-Apa… Jika kamu ingin
mengatakan sesuatu, katakan saja.” Dia mengeluh.
“Ah, tidak… Baiklah…”
Suasana canggung apa ini?
Bukankah aku akan selalu menyatukan mejaku dengan mejanya, dan menikmati
makananku sambil menikmati/(melihat) wajahnya? Wow, apa aku selalu semenjijikkan
ini? Sangat memalukan…
“…… Tidak, itu bukan apa-apa.”
“… H-Hah?”
Ada yang salah denganku hari
ini. Rasanya pemandangan di depanku berbeda dari biasanya. Aku panik ke tingkat
yang bahkan tidak bisa mengganggu Aika saat ini ... Aku belum pernah mengalami
ini sebelumnya.
… P-Pokoknya, aku harus pergi
dari sini! Bahkan dia pasti bisa mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah, jadi
mungkin aku seharusnya tidak terlalu sering berada di dekatnya sekarang.
“Eh… !? H-Hei !? ”
Aku membawa kotak makan siangku.
Sedangkan untuk minumannya, aku bisa membeli sesuatu dari mesin penjual
otomatis di jalan. Aku merasa Aika mengatakan sesuatu di tengah jalan, tapi aku
tidak punya waktu untuk memikirkannya. Namun, akulah yang selalu melekat
padanya. Aku benar-benar idiot…
Bagian dalam kepalaku berputar-putar,
meskipun pandanganku jelas. Karena aku tidak ingin kehabisan jadi aku membeli
teh hijau, tetapi aku malah membeli coke/(semacam coca cola gitu lah). Yah,
bagaimanapun juga baik-baik saja. Aku hanya berjalan kemana kakiku membawaku,
ketika aku melihat sebuah bangku di sisi jalan setapak di dalam halaman, di
bawah atap. Karena tidak ada orang lain yang menggunakannya, aku mengambil
kebebasan dan duduk.
“……”
Sekitar tiga puluh detik
berlalu, dan sebelum aku menyadarinya, aku telah membuka kotak makan siang di
pangkuanku. Aku memiliki nafsu makan, jadi aku membawa beberapa telur dadar
gulung ke mulutku.
"…Lezat."
Itu adalah makanan yang luar
biasa yang memenuhi mulutku dengan rasa manis. Sejujurnya rasanya hatiku sedang
disembuhkan. Apakah ini yang mereka sebut rasa nostalgia masakan rumah ibumu?
Semakin banyak aku makan, semakin segar dan jernih bagian dalam kepalaku.
Sebelumnya, aku merasa seperti menonton layar TV yang hancur, tapi sekarang
seperti biasanya. Mungkin aku hanya kekurangan nutrisi.
“... Itu mungkin berbahaya.”
Mungkin sebaiknya aku pergi ke
rumah sakit sebelum makan sesuatu. Kemudian lagi, dengan kepalaku dalam keadaan
linglung seperti itu, aku juga tidak bisa sampai pada kesimpulan rasional. Yah…
selama semuanya baik-baik saja pada akhirnya, tidak apa-apa. Kurasa tidak
menyebabkan keributan adalah pilihan yang lebih baik.
*
Periode ke-5… Jepang Modern,
ya. Baiklah, ini saatnya sel otakku mati total. Sejujurnya, aku akan
menghabiskan sebagian besar waktuku membaca web novel acak secara online, tidak
menghabiskan banyak perhatian di kelas. Karena aku masih belum bisa menyesap/(ini
menyesap pelajaran mungkin maksudnya) karena kekurangan gizi, kupikir aku hanya
harus bengong/(melamun) saja…
Atau begitulah yang kupikirkan,
ketika Aika menoleh ke arahku, saat dia mendengar suara kursi ditarik di
belakangnya. Tatapannya beralih dari dadaku ke mataku. Apakah dia mencari plat
nama atau sesuatu? Mengapa aku merasa seperti menunggu dalam antrean untuk
masuk ke klub?
“… Apakah kamu
mengkhawatirkanku?”
“Ap… H-Huh !? Kenapa aku harus
mengkhawatirkanmu !? ”
"A-aku mengerti."
Di hadapan penolakannya yang
meledak-ledak, aku hanya bisa mengangguk. Apakah aku selalu terluka/(tersakiti)
semudah ini? Aku benar-benar merasa ingin menangis sekarang. Kurasa aku harus
diam sampai moodnya membaik. Aika-san, haruskah aku memberimu pijatan bahu —
Tenangkan aku. Tenang. Jangan menyerah pada hawa nafsumu.
“Hanya itu…?”
“Eh?”
"T-Tidak ada, idiot!"
Baiklah, yang ini lebih baik.
Dilecehkan secara verbal bukanlah hadiah yang luar biasa…! Tetap saja, sangat
jarang Aika bergumam seperti itu alih-alih berterus terang padaku, bahkan
dengan penolakannya. Tidak seperti aku menginginkan itu.
Setelah itu, Aika dan aku tidak
bertukar kata. Aika malah berbicara dengan orang lain, yang mungkin merupakan
anugrah bagiku. Aku hanya menghabiskan waktuku dengan melamun, berharap aku
akan segera kembali normal.
*
Dengan itu, kelas berakhir
untuk hari itu. Entah kenapa, hari ini terasa lebih lama dari biasanya. Setelah
makan siang saat istirahat makan siang, kupikir aku akan kembali ke jalur yang
benar… tetapi aku masih tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman ini.
Atau, apakah itu hanya imajinasku?
Kelas juga terasa lebih tenang dari biasanya. Bukankah kemarin jauh lebih
berisik?
“Ahh, mengantuk…”
“Ada apa Yamazaki? Kurang
tidur?"
“Mm, ya, kurasa…”
Aku melihat tetanggaku di
sebelah kananku Yamazaki, terjatuh di atas mejanya, namun ketika aku
memanggilnya, dia menunjukkan reaksi yang aneh. Ada apa dengannya, bukankah dia
selalu dipenuhi energi setelah sekolah usai? Oh iya, dia dulu anggota klub bola
basket, aku ingat.
Saat aku melirik ke kiri,
kebalikan dari Yamazaki, Aika sedang duduk diam, bahkan tidak bersiap untuk
pulang. Haruskah aku memanggilnya…? Seperti biasa?
“Aika, haruskah kita pulang?”
"Hah? … K-Kenapa aku harus
pulang bersamamu! ”
“B-Benar… Begitu. Sampai jumpa
besok. ”
“Eh …… Eh?”
Dia mungkin hanya akan
menganggapku sebagai pengganggu. Tidak bisa/(boleh) menganggu orang yang ku
perdulikan. Lorong penuh dengan siswa yang bersiap untuk pulang, dan yang
lainnya menuju ke klub mereka. Haruskah aku mengambil jalan memutar pulang? Ada
manga yang selalu kubeli dalam perjalanan pulang, mungkin itu masih berlanjut?
Sebelum itu, aku mungkin harus
pergi ke toilet dulu.
“—Hm? Eh… ”
Tepat ketika aku memasuki
toilet anak laki-laki itu, aku melihat ke kanan, tempat mereka memasang
wastafel dan cermin besar.
“—Apa sedang kulakukan?”
Mengamati diriku di cermin, aku
melihat seorang siswa laki-laki dengan poni cokelat yang cukup panjang. Itu adalah
diriku sendiri, dan aku tidak terkejut hanya dengan itu. Yang lebih membuatku
takut adalah gaya rambut debut sekolah menengahku yang mencolok yang dimana itu
sama sekali tidak cocok dengan wajah rata-rataku. Aku bahkan tidak setinggi
itu, dan aku juga tidak selalu berbakat dalam hal olahraga atau studi.
Pria yang membosankan ...
mungkin akan mengambilnya terlalu jauh, tapi apakah aku selalu seperti anak
laki-laki yang normal? Ke tingkat di mana aku tidak bisa menambahkan apa pun
tentang diriku selain penampilan luarku? Keraguan ini yang kumiliki saat
istirahat makan siang… Kenapa cintaku pada Aika tidak berubah, namun rasanya panas
itu seperti telah menghilang? Benar, itu karena aku kehilangan kepercayaan
diri. Atau lebih dari itu—
'Cinta membuat (seseorang) Buta'.
Bukankah itu yang terjadi denganku? Itu masuk akal. Kita sedang membicarakan
Natsukawa Aika, bukan? Dia adalah bunga yang tidak bisa diraih di sekolah ini.
Dia imut, memiliki sosok yang hebat, yang membuat banyak pria di sekolah ini
menjilatinya/(ini menjilat sifat bukan tindakan). Tetap saja, tidak ada yang
cukup bodoh untuk benar-benar mencoba dan pergi berkencan bersamanya. Itu
benar, bagiku, Natsukawa Aika adalah idola kelas satu dan populer, dan aku
hanyalah penggemar membosankan yang kebetulan jatuh cinta padanya.
Bagaimana jika ada idola tepat
di depanku, berpartisipasi dalam pemotretan atau acara TV? Jawabannya
sederhana. Aku akan menjaga jarak aman darinya, dan mendukungnya dari
bayang-bayang. Itu adalah contoh penggemar yang sempurna.
Kurasa itulah mengapa aku
merasa seperti kembali ke kenyataan. Memikirkannya secara rasional, ini sangat
masuk akal. Tidak mungkin seorang pria lumpuh sepertiku akan terlihat bagus di
samping Aika yang jenius dan cantik yang tak tertandingi. Kenapa aku tidak
pernah menyadarinya…!
"Tolong pergi berkencan bersamaku
— pantatku."
TLN : (digunakan untuk
menyampaikan bahwa seseorang tidak mempercayai sesuatu yang baru saja dikatakannya
atau dikatakan orang lain.)
Tidak ada yang hadir di toilet
ini kecuali diriku. Aku bisa mengucapkan kata-kata ini kepada orang yang ada di
cermin tanpa ragu-ragu. Mungkin aku terlihat seperti badut di mata yang lain,
mencoba hal yang mustahil. Memikirkannya secara rasional, dikejar oleh pria
yang bahkan tidak kamu sukai pasti sangat tidak nyaman untuknya.
“… Aku idiot…”
Semua darah terkuras dari
kepalaku, seperti yang bisa kulihat bahkan di cermin. Karena aku hidup dalam
delusi, aku kehilangan begitu banyak waktu yang berharga. Selain itu, aku
mengganggu orang yang paling kusayangi. Bukankah ini mengerikan…?
“………”
Keringat mulai mengucur dari
tubuhku. Angin dingin masuk dari jendela toilet yang terbuka, jadi aku menyeka
wajahku dengan handuk yang kebetulan kubawa. Anehnya, sampai keringat yang tak
berujung itu akhirnya berhenti, tidak ada orang lain yang masuk ke kamar mandi.
*
Mengapa adaptasi live-action
selalu begitu jahat dan berdosa? Karena masa ujian di sekolah menengah, ada
satu seri manga yang harus berhenti kubaca, tetapi untuk berpikir bahwa aku
akan belajar kelanjutannya berkat adaptasi live-action. Belum lagi itu
benar-benar tidak menyentuh rumah* seperti manga-nya. Sepertinya aku harus
membaca manga untuk membersihkan jiwaku.
TLN : (menyentuh rumah/hit
home* = orang menerima bahwa itu nyata atau benar, meskipun mungkin menyakitkan
bagi mereka untuk menyadarinya.)
Saat aku memikirkan hal ini,
bel pintu berbunyi. Jarang sekali, saat ini hanya aku yang ada di rumah. Ketika
aku menuju ke pintu masuk, dan membuka pintu, orang yang paling tidak kuduga
berdiri di sana.
“Eh… Aika? Mengapa kamu di
sini? Belum lagi saat ini. ”
Saat ini jam setengah lima
sore, idolaku Natsukawa Aika tiba. Sepertinya dia datang langsung setelah
mandi, karena rambutnya yang berwarna coklat kemerahan masih tampak sedikit
berkilau dari air, dan kulit putih di lengannya yang tumbuh dari one-piece
indahnya dipenuhi dengan pesona yang memikat, itu membuatku jantung berdetak
kencang. Kemudian lagi, hatiku selalu berpacu dengannya.
“M-Maaf datang selarut ini…”
"Itu baik saja-saja, tapi
... Mengapa?"
“S-Salah satu orang yang tinggal
disekolah karena klubnya memberitahuku di mana kamu tinggal!”
Memiliki keindahan seperti ini berjalan
di sepanjang jalan di malam hari seperti ini terlalu berbahaya. Itu memenuhiku
dengan keinginan untuk memberinya ceramah yang didorong oleh cinta yang
melimpah. Kemudian lagi, itu akan membawaku dalam bahaya paling besar.
Mengapa dia bahkan mencari tahu
di mana aku tinggal? Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Aika tentangku.
Setidaknya, aku tidak akan mencoba mendekati diriku sendiri. Jelas bukan karena
dia sangat menyukaiku. Jika ada (suatu alasan), jika aku adalah Aika, aku akan
memukuli anak laki-laki sepertiku.
“A-Apakah ada sesuatu yang
ingin kamu bicarakan?”
“Y-Ya… Ada.”
“……”
…Begitu. Jadi waktunya telah
tiba. Yang mana? Apakah dia akan memberitahuku untuk menjauh darinya karena
keberadaanku membuatnya merasa tidak nyaman, atau apakah dia mendorongku untuk
menjauh karena dia menemukan seseorang yang dia sukai, dan tidak ingin mereka
memiliki pandangan yang salah tentang kita? Bagaimanapun, dia datang jauh-jauh
ke sini untuk memberitahuku, jadi pasti ada sesuatu yang seperti itu.
“… Mau masuk? Tidak ada orang
di rumah sekarang. "
“T-Tidak ada orang di rumah !?”
“Izinkan aku menambahkan bahwa aku
bahkan tidak tahu kapan mereka akan kembali.”
Lebih baik beri tahu dia agar
aku tidak punya niat buruk. Tidak seperti aku akan melakukan hal seperti itu.
Setelah Aika masuk dengan ketegangannya hingga maksimal, aku membimbingnya ke
meja makan. Dengan lokasi di sudut ruang tamu, dia seharusnya bisa bersantai
dengan baik.
Kami sedang berada di musim
yang belum mencapai awal musim panas. Dia akan masuk angin saat berjalan di
luar setelah baru saja mandi. Aku mengerti bahwa terlihat bergaya lebih penting
daripada menjadi hangat, tetapi bukankah one-piece itu sedikit (terbuka)? Juga,
mengapa dia terlalu mendandani dirinya jika dia membenciku…?
Aku meletakkan sup bawang di depannya,
dan menawarkan selimut. Jarang sekali, Aika menerimanya tanpa ragu-ragu. Aku
tahu itu, kondisi fisik seorang idola adalah yang paling penting. Ketika
suasananya menjadi agak canggung, Aika menghentikan percikan api dan membuka
mulutnya.
“Hei… apa terjadi sesuatu?”
“Maksudku… apakah aku
bertingkah aneh?”
“Aneh… Tidak, tidak juga!
Itulah mengapa itu aneh! "
"T-Tenanglah, ya."
Aku bisa tahu apa yang dia coba
katakan. Aku yang mengganggu Aika setiap hari adalah bagaimana dia melihatku,
jadi jika aku tidak melakukan itu, sesuatu mungkin tampak aneh. Dan, Aika
datang ke sini untuk menanyakan tentang itu? Dia menyuruhku menjelaskan apa
yang kualami di toilet sebelumnya? Bagaimana aku bisa, itu terlalu memalukan.
“Bahkan jika aku memukulmu, kamu
tidak gentar… Seperti masokis yang mendatangiku dengan harapan… P-Pokoknya, itu
cukup menjijikkan, kamu tahu?”
“Dan kamu menyuruhku untuk
setuju dengan itu.”
“N-Namun, hari ini, kamu
mendengarkan apa yang aku katakan, dan tidak menggangguku sedikitpun! Apa yang
kamu rencanakan? Katakan padaku!"
“……”
Biasanya, aku adalah manusia
perekat yang tidak masuk akal. Melihat diriku sendiri, aku tahu sebanyak itu.
Sepertinya aku tidak bisa menyalahkannya karena meragukanku, dengan asumsi aku
akan merencanakan sesuatu. Tetapi, jika aku harus menjelaskan semuanya, dan
akhirnya semakin dibenci, aku mungkin akan mati. Tentunya.
“Um… Jadi, Aika.”
"A-Apa?"
Alih-alih menjelaskan semuanya,
aku harus menunjukkan padanya. Buat dia menyadari bahwa apa yang selama ini kulakukan,
citra yang kumiliki tentang kami berdua salah dan bahwa aku sendiri yang
menyadarinya. Untuk itu-
"Aku suka kamu. Tolong
pergi denganku. "
Aku tidak takut jika hubungan
kita berubah.
_________
(setelah vakum dua minggu up lagi :v)