Kurasu no Daikiraina Joshi to Kekkon Suru Koto ni Natta Volume 1 - Chapter 3 (Part 1)
Chapter 3 - Memahami (Part 1)
Setiap hari di 'medan perang' ini
selalu membuat Saito Lelah.
Karena dia tidak terbiasa hidup
dengan orang asing, bahkan ketika dirumah juga dia tetap tidak bisa tenang, dan
juga dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Selain itu, aku terus menerus diliputi
oleh permusuhan dan pertengkaran yang berulang-ulang. Dia merasa seolah-olah
batas pribadinya telah dilanggar, dan sering merasa kesal denga apa yang
dilakukan oleh orang lain. Kehidupan pernikahan mereka yang singkat ini lebih
brutal daripada dua tahun persaingan mereka di sekolah.
Pagi ini, saat membuka matanya,
Saito merasakan gelombang kelegaan menyadari bahwa Akane tidak berbaring di
sampingnya.
Akan lebih baik baginya jika
dia pergi ke sekolah dulu, tetapi dia sangat kecewa karena dia masih bisa
mendengar Akane memasak di dapur.
Saito membasuh wajahnya,
mempersiapkan mentalnya di koridor dan melangkah ke ruang tamu.
Suasana yang tidak nyaman
membuat kulitnya mati rasa.
Ada roti panggang dan salad
yang dipajang di atas meja. Tidak peduli seberapa parah pertengkaran mereka,
dia tetap menyiapkan sarapan. Dia tidak yakin apakah ini karena keseriusan atau
kebaikannya.
"…Pagi."
Saito menyapanya ketika dia
hendak duduk di kursinya, sementara Akane memalingkan kepalanya dengan tajam
dan mulai memakan roti panggangnya.
Yah, dia lebih memilih untuk
menyerang roti panggangnya daripada mengunyahnya.
Keheningan yang tidak nyaman.
Akane dengan kesal menggunakan
remote control untuk mengganti saluran.
Kedua belah pihak telah banyak
menghabiskan waktu untuk hal itu, sehingga motivasi untuk saling memarahi pun
menghilang.
Tekanan itu berangsur-angsur
menguasai dirinya, Saito sendiri bahkan tidak bisa menelan roti panggangnya.
Dia ingin melarikan diri dari
medan perang ini. Itulah satu-satunya emosi yang tersisa di dalam dirinya.
Sama seperti Saito, Akane juga
telah mencapai batasnya.
Dia meninggalkan rumah lebih
awal dari Saito, mendesah lelah sambil berjalan.
Dia tidak mengerti mengapa
seorang gadis kelas 3 SMA seperti dia bisa dalam situasi seperti ini. Sejak
mereka mulai hidup bersama, hubungan mereka hanya semakin memburuk. Dia tidak
bisa berkonsentrasi pada pelajarannya di rumah, dan juga ketika dia diluar
rumah dia hanya bisa memikirkan Saito -tentang hal-hal tercela yang mungkin dia
lakukan padanya-.
Selain itu, ledakan emosional itu
mengonsumsi banyak sekali energi, dari segi mental maupun fisik.
Sejak mereka hidup bersama,
Akane telah kehilangan 5 kg berat badannya. Biasanya, menurunkan berat badan
adalah hal yang baik, tetapi dia tidak menyambut penyakit yang mungkin akan mengikuti
dibalik turunnya berat badannya.
Dia melangkah ke kelas dengan
suasana hati yang berat.
“Pagi~, Akane. Ada apa, apakah
kamu sedang merasa tidak enak badan~”
Himari memanggilnya dengan
senyum berseri-seri seperti biasanya.
Ini adalah satu-satunya tempat
yang aman di dalam medan perangnya. Akane tiba-tiba menerjang ke arah Himari.
“Uuuuuuuuuuuuuuu…Himari…Himariiiiiii…”
Dia membenamkan dirinya ke dada
Himari dan menangis. Tidak seperti dada Akane yang sederhana, payudara Himari
memiliki sifat keibuan, yang membuatnya nyaman ketika dipeluk.
“Tunggu, tunggu, apa yang
sebenarnya terjadi? Apakah kamu dilecehkan secara seksual dalam perjalanan ke
sekolah?”
Himari meraih bahu Akane dan
menatap lurus ke matanya.
Akane berbisik dengan suara
tanpa jiwa.
"Dilecehkan secara seksual
... akan seratus kali lebih baik dari ini ..."
“Lebih buruk dari pelecehan
seksual~!? Lalu pergi ke polisi!?”
"Polisi juga tidak akan
bisa membantuku..."
“Lebih berbahaya daripada
polisi!? Lalu apa yang bisa kulakukan!?”
Himari benar-benar sangat
mengkhawatirkannya.
Sejak dulu dia selalu menjadi
sekutu Akane. Orang lain di kelas tidak menyukai Akane, dan tidak ingin
berteman dengannya, tapi Himari adalah pengecualian untuk itu. Dia sudah berkali-kali
diselamatkan oleh kebaikan sahabatnya, tapi kali ini dia lebih lebih mengerti
tentang nilai dirinya/(Himari).
“Jika kamu memiliki sesuatu
yang mengganggumu, katakan saja padaku. Aku akan mendengarkan semuanya.”
“Umm…”
Dia bisa memberi tahu Himari
karena dia benar-benar bisa dipercaya.
Tapi situasinya terlalu rumit.
Seorang kakek-nenek yang egois
memaksakan pernikahan dengan alasan yang tidak jelas, didorong untuk tinggal dirumah
baru, harus hidup bersama dengan teman sekelas laki-laki yang dia benci, harus tidur
di ranjang yang sama, diintip ketika sedang mandi, menghabiskan hari demi hari
hanya dengan berdebat seolah aku ingin mati.
-Bagaimana aku bisa mengatakan
itu padanya~!!
Akane memeluk kepalanya dengan
putus asa. Itu sudah di luar kemampuan konseling seorang gadis SMA.
Tetapi jika dia membicarakan
hal ini dengan konselor sekolah, pasti akan ada banyak masalah, jika memasangnya
di papan bulletin dia hanya akan dibanjiri oleh kritikan.
“E, etto…? Jika aku memiliki
hubungan yang sangat buruk dengan seseorang, tetapi saya dipaksa untuk dekat
dengan mereka, menurutmu apa yang harus kulakukan…?”
Akane memilih kata-katanya
dengan hati-hati.
Himari meletakkan jari telunjuknya
di bibirnya dan memiringkan kepalanya.
“Ingin meningkatkan hubungan
dengan seseorang yang kamu benci…? Apa kau sedang membicarakan Saito?”
"Tidak! Kenapa kau
menyebutkannya!? Aku tidak pernah berpikir bahwa aku ingin lebih dekat
dengannya.”
Menyebut namanya saja sudah
cukup membuat jantung Akane berdegup kencang.
“Yahh, aku hanya bisa
memikirkan Saito-kun… Akane, sejak tahun pertama, kamu sepertinya hanya peduli
pada Saito.”
“Aku tidak peduli padanya! Siapa
pun baik-baik saja, kecuali dia! ”
Telinganya panas seperti
terbakar. Sesuatu seperti menyukai seseorang yang sangat dia benci (Saito)
pasti tidak akan terjadi. Itu adalah musuh bebuyutannya. Sebuah eksistensi yang
harus Akane kalahkan.
“Begitulah~. Yah itu bagus.”
Himari tersenyum seolah lega.
“Yah, untuk saat ini aku sudah
pada batasku. Jika kita terus berdebat seperti ini, stres akan membuatku aneh.
Apa yang harus aku lakukan tentang ini…"
"Sesuai dugaanku, ini
tentang Saito, ya?"
"Sudah kubilang
bukan!"
Mereka tidak akan kemana-mana
dengan ini. Tapi, Akane tidak ingin mereka pergi terlalu cepat dan
mengungkapkan semuanya.
Himari memberi saran.
“Hmm~, itu benar~. Jika itu
aku, aku akan memeluk orang itu mungkin?”
"Oh, pelukan?"
"Baik. Pelukan erat,
karena jika keduanya bisa saling memahami nafas dan detak jantung, mereka tidak
akan mau bertengkar lagi. Dan mereka akan berpikir 'jadi orang ini hanya
manusia sepertiku' ”.
“Hya~”
Himari mendekat dan memeluk
Akane, membuatnya mengeluarkan suara yang menyedihkan.
Tubuhnya terbungkus oleh aroma lembut...
Melakukan ini dengan Saito? Membayangkannya saja sudah membuat Akane malu dan
kelelahan.
“Tidak mungkin, mustahil
mustahil! Itu bukan sesuatu yang bisa kulakukan dengannya!”
“Itu tantanganmu!”
"Mustahil! Pasti ada cara
lain!”
Akane meninggalkan pelukan
Himari.
Naluri keibuan Himari terlalu
berbahaya. Dia merasa seperti dia perlahan-lahan akan tinggal selamanya disana
jika dia tidak mau berhenti.
"Jadi, bagaimana kalua menghabiskan
malam bersama?"
“Tidak mau!”
Dia tidak bisa mengatakan bahwa
dia tidur di ranjang yang sama dengannya setiap malam.”
“Bagaimana kalau makan
bersama?”
“Itu akan merusak selera
makanku.”
Dia juga tidak bisa berbicara
tentang bagaimana dia memasak untuknya setiap hari.
“Jadi, bagaimana kalau saling
berpelukan dengan telanjang? Atau bagaimana jika pergi ke pemandian air panas?”
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…….”
Mengingat ketika mereka
berpelukan saat telanjang, Akane menggunakan telapak tangannya untuk
menyembunyikan wajahnya.
Memikirkan kembali, dia/(Akane)
dan dia/(Saito) telah melakukan beberapa hal yang tidak dapat dibayangkan. Itu
adalah hari-hari yang memalukan bagi siswa yang masih duduk di bangku SMA. Dan juga,
karena mereka sudah menikah, mereka tidak bisa melawan hukum dan moralitas.
Di depan Akane yang gemetar,
Himari berjongkok untuk menatap matanya.
"Jika itu juga tidak
berhasil, maka cobalah berbicara satu sama lain terlebih dulu?"
“….Bicara satu sama lain?”
“Uhm! Kupikir orang-orang
saling memahami dengan lebih baik ketika berbicara satu sama lain.”
“Bukankah itu hanya berlaku
untukmu Himari…Himari, kamu adalah manusia super, dengan kekuatan untuk
berteman dengan siapa pun yang kamu ajak bicara.”
'Kamu bahkan melakukan itu
padaku', pikir Akane.
"Tidak seperti itu. Bahkan
aku punya orang yang tidak bisa kuajak berteman.”
“Apa?”
Tak terbayangkan. Jika itu
Himari, dia bahkan bisa bergaul dengan alien.
"Tentu saja! Dibandingkan
dengan Saito dan Akane, aku hanyalah seorang gadis SMA yang sangat normal. Tapi
dengarkan aku, bahkan jika kamu tidak pintar atau tidak cantik, itu tidak
masalah. Menjadi dekat dengan seseorang bukan berarti untuk mendapatkan rasa
hormat untuk diri sendiri, tetapi untuk menghormati orang lain.”
"Menghormati ... orang
lain ..?"
Himari tertawa dan mengangguk.
“Terimalah orang lain dan
dengarkan mereka. Coba tebak apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan,
mengapa mereka marah. Semakin kamu mencoba memahami pihak lain, semakin kamu
bisa menghormati mereka. Beginilah caraku dekat denganmu, Akane.”
“Jadi, begitu…”
Akane menjadi malu/(bingung)
ketika Himari berbicara terus terang seperti itu.
Memang benar dia tidak terlalu
dekat dengan Himari awalnya. Berkat upaya tanpa henti Himari mendekati Akane,
dia berhasil menghancurkan dinding yang mengelilingi hati Akane.
"Tapi ... bisakah aku
melakukannya?"
"Tentu saja kamu
bisa!"
“Setiap kali kita berbicara,
aku merasa ingin mematahkan leher orang lain menjadi dua…”
“Jangan! Cobalah untuk
menahannya!"
"Akan ada pertumpahan
darah ..."
“Cobalah saling berbicara!
Tidak saling membunuh!?”
Akane mengepalkan tinjunya.
“…….Aku akan mencobanya. Tidak
peduli apapun caranya, aku pasti akan membuat orang itu... mengerti permintaan
saya!
“Kamu tidak memaksa mereka
untuk mengerti kamu, tapi kamu mencoba untuk mengerti mereka!? Apakah kamu
yakin kamu tidak salah paham!?”
Himari dengan cemas
mengingatkannya.
Istirahat makan siang.
Di bangku batu di taman
sekolah, Saito sedang minum kopi susu. Pemanis buatan yang tidak sehat itu
memasuki perutnya, memberinya energi.
Duduk di sebelahnya adalah
sepupunya, Shisei.
Dia memegang potongan roti melon
seukuran kedua tangannya, dan mengunyahnya. Dia lebih mirip hamster daripada seorang
gadis SMA. Untuk seseorang yang lelah karena eksistensi seorang gadis, sosoknya
sedikit menyembuhkannya.
“Apakah Ani-kun hanya makan
siang dengan itu? Kamu tidak bisa membeli roti?”
"Tidak seperti itu…"
“Shise akan memberimu setengah.
Apakah kamu mau memakannya?”
Roti yang ditawarkan kepadanya
memiliki bekas gigitan kecil Shisei yang menggemaskan. Di sekolah ini ada
perkumpulan fans yang gila—tidak perduli apakah dia laki-laki atau perempuan—yang
mau mendapatkan barang berharga ini bahkan sampai rela mengorbankan banyak uang,
tapi sayangnya Saito hanya melihatnya sebagai makanan setengah sisa. jadi,
tidak.
"Aku sedang tidak mood
untuk makan. Hanya minum saja tidak masalah bagiku. ”
Shisei menggunakan kedua
jarinya untuk menyodok area di dekat mata Saito.
“……….!?”
Saito langsung mundur dan
nyaris menghindari kekuatan menusuk berbahaya dari jari-jari itu.
"Kamu, kamu, kamu, apa
yang kamu lakukan !?"
"Ani-kun, kamu memiliki
beberapa cincin hitam di bawah matamu."
"Jadi, kamu akan mencabut
mataku jika ada cincin hitam dibawahnya!?"
"Aku sedang berpikir untuk
memberimu pijatan."
“Ahh, begitu… aku sedikit
lega.”
Saito meletakkan tangannya di
dadanya. Jantungnya berdebar kencang.
“Pijatan bola mata.”
"Aku tahu bahwa aku tidak
bisa merasa lega!"
Saito menjaga jarak dari Shisei
ketika dia mencoba mendekatinya dengan jari-jarinya.
Dia ingin berpikir itu hanya
pijatan alis, tetapi cara berpikir Shisei tidak normal, jadi dia tidak bisa
mempercayainya. Dia ingin menghindari tragedi lepasanya mata miliknya.
"Ani-kun, kenapa kamu
tidak mood untuk makan?"
“Rumah sudah seperti neraka.
Apakah kamu pikir aku akan memiliki mood untuk makan ketika aku tinggal dengan
seseorang yang berdebat denganku setiap kali dia memiliki waktu luang?”
“Aa…Bagaimana dengan
perceraian?”
"Aku tidak bisa melakukan
itu."
“Bahkan jika Ani-kun bercerai,
Shise akan tetap menjagamu dengan baik. Kamu tidak perlu khawatir.”
“Aww. Terima kasih."
Saito menepuk kepala Shisei
yang menghiburnya. Rambutnya halus seperti sutra, seperti menggosok bulu
kucing.
“…Muuu~”
Shisei cemberut.
“Pertama-tama, sulit bagiku
untuk mengajukan cerai. Jika aku lari dari tempat ini, pada dasarnya aku
menyerahkan nasibku di tangan kakek. Aku perlu menguasai perusahaan Houjou
terlebih dahulu.”
"Tapi bagaimanapun, Ani-kun
akan mati."
“Sepertinya begitu… tapi aku
akan mengatasi ini, entah bagaimana caranya.”
Saito memberikan senyum kering.
Shisei menatap Saito.
“Shise tidak ingin Ani-kun menderita.
Jika perceraian bukanlah pilihan, satu-satunya yang tersisa adalah menjadi
lebih dekat dengan Akane.”
"Itu tidak mungkin. Aku
tidak cocok dengannya. Kamu tahu itu bukan, gadis itu selalu mencoba untuk
menusukku. Kami berdua bertolak belakang.”
“Bagaimanapun juga, manusia
adalah hewan… Kupikir, akan ada beberapa persaingan dalam beberapa spesies
tertentu.”
"Benar, kan?"
"Bagaimanapun, Ani-kun sebenarnya
hanya malas."
"Malas…? Mengapa?"
Saito mengerutkan alisnya.
Mengapa dia dipanggil seperti itu ketika dia harus bertahan sampai menangis di
medan perang.
“Orang-orang dilahirkan dan
dibesarkan dalam kondisi yang berbeda, kita tidak bisa hanya cocok secara
ajaib. Kita semua memiliki minat yang berbeda, cara berpikir dan juga selera
yang berbeda-beda… Bagaimana jika Ani-kun menyerah pada Akane sedikit saja?”
"Hal itu…"
Dia tidak pernah memikirkan hal
itu. Karena di luar berdebat tentang setiap hal kecil, dia tidak melakukan hal
lain untuk berinteraksi dengannya.
“Adalah egois jika kamu ingin
dirimu yang sebenarnya diterima oleh orang lain tanpa berusaha sendiri. Jika kamu
ingin mencari seseorang yang sangat cocok denganmu, kamu hanya bisa membuat salinan
dari dirimu sendiri. Bagaimanpun, dunia seperti itu membosankan. Dan juga, dunia
menjadi lebih menarik karena adanya perbedaan. Itulah yang Shise pikirkan.”
"Kamu ... banyak berpikir
sebelum berbicara ya."
“Shise selalu berpikir. Shise
bebeda dengan orang-orang, tetapi tidak pernah memperdebatkan hal tersebut. Aku
juga berbeda dengan Ani-kun, tapi aku tetap mencintaimu.”
Ada peningkatan yang mencolok
di sudut bibir Shisei. Dia merasa seolah-olah itu adalah senyuman.
“Jadi, satu-satunya cara untuk
menjadi lebih dekat, adalah dengan saling mengalah. Jika kamu dapat memahami
perasaan orang lain, memanipulasinya adalah permainan anak-anak. Ketika kamu
menjadi CEO, kamu pasti akan melakukan hal tersebut.”
“Itu memang benar… Jika kamu
berdebat dengan bawahanmu karena hal kecil, bisnis akan menjadi berantakan…”
Saito kembali menatap Shisei.
Dia dianggap oleh banyak orang
sebagai alien, atau makhluk aneh yang diperlakukan sebagai bayi oleh para
gadis, tetapi tampaknya usia mentalnya jauh lebih tinggi daripada diperkirakan.
“Semua diskusi ini mengarah
pada satu kesimpulan”
Shisei mengerutkan alisnya.
"... Apa itu?"
Saito menegakkan punggungnya.
Nasihat dari sepupunya yang cerdas itu layak diterima dengan baik.
Shisei memasang wajah serius
dan berkata.
"Ani-kun, kamu harus menggendong
Shisei seperti seorang putri."
"Mengapa!"
Dia tiba-tiba meragukan
kecerdasan sepupunya.
"Ani-kun, kamu tidak
pernah punya pengalaman menggendong seorang putri?"
“Pengalaman… tidak, belum.”
“Mayoritas gadis akan jatuh
cinta padamu jika mereka diberi gendongan seorang putri. Ani-kun harus berlatih
menggendong Shisei seperti seorang putri.”
"Kupikir gadis tidak akan
jatuh cinta dengan hal-hal sesederhana itu ... Ada beberapa makhluk di luar
sana yang ingin mematahkan jariku jika aku ingin memberinya sentuhan sekecil
apa pun."
Shisei menatap Saito.
"Itu karena Ani-kun
menyentuh payudaranya."
"Aku tidak menyentuh
payudaranya!"
"Atau apakah kamu menyentuh
tempat yang lain?"
“Aku pasti TIDAK akan pernah menyentuh
tempat ITU!”
"Yakin…?"
“Tidak, aku pasti tidak akan menyentuhnya
di mana pun. Tidak salah lagi.”
Saito merasa merinding di
punggungnya.
Mereka direkatkan selama
kecelakaan kamar mandi, tapi itu kecelakaan, jadi sentuhannya tidak masuk
hitungan.
“Ani-kun perlu lebih memahami
hati seorang gadis. Percaya saja pada Shise.”
Dia tidak dapat menolaknya
ketika sepupu masa kecil nya berkata seperti itu. Melalui tatapan Shisei, dia/(Saito)
bisa merasakan bahwa dia/(Shisei) tidak berbohong.
Saito mengangguk serius.
“….Baiklah. Aku mempercayaimu."
“Banzai.”
Shisei mendorong dirinya dari
bangku menggunakan lengannya.
Kaus kaki putihnya menutupi
lutut, dan kaki mungilnya tampak tersedot ke dalam roknya.
Rambut panjangnya menutupi
tubuh mungilnya.
Postur yang benar-benar diam
itu dengan sempurna meniru boneka barat.
Saito meletakkan lengan kirinya
di bawah lutut Shisei, sambil menggunakan tangan kanannya untuk menopang
punggungnya. Dia mengangkatnya dengan hati-hati agar dia tidak jatuh dan
hancur.
“Fuh~…”
Shisei mengeluarkan suara kecil
dari tenggorokannya.
Tubuh itu seringan bulu. Seolah-olah
takut bahwa dia terpisah dari tanah, Shisei mendorong tubuhnya dan melingkarkan
lengannya di leher Saito. Aroma yang berasal dari tubuh putih saljunya lebih
manis daripada susu.
"Apakah ini cukup bagus?"
“Bagus, Hebat, Luar Biasa. Ani-kun
telah berevolusi menjadi seni pembawa tuan putri.”
“Terlalu dini untuk
mempromosikanku.”
"Tapi, masih belum cukup
cinta."
"Cinta…?"
“Uhm. Bisikkanlah kata-kata
lembut ke telingaku. Seperti [Aku mencintaimu]".
"Apa-apaan itu!"
“Jika tidak, kamu tidak akan
menjadi seorang master penggendong tuan putri. Apakah kamu tidak mempercayai
Shise?”
Shisei melihat ke arahnya dengan
penuh celaan.
“Kuh~…”
Saito menggertakkan giginya.
Bahkan jika itu hanya latihan, dia tidak bisa mengatakan sesuatu yang manis
seperti itu. Tetapi karena dialah yang meminta nasihat di sini, dia harus
mengikutinya sampai akhir.
"Aku mencintaimu."
“……!”
Telinga Shisei sekarang
diwarnai warna merah.
"Shise kadang-kadang bisa
malu ya."
"Tentu saja. Shise juga
seorang gadis.”
"Maaf, itu pertama kalinya
aku menyadarinya."
Namun, begitu dia sadar,
situasi ini menjadi sedikit lebih buruk.
"Selanjutnya, katakan 'Aku ingin menjadikan segalanya milikmu' ."
"Aku, aku ingin menjadikan
segalanya milikmu."
"Selanjutnya adalah 'Aku tidak akan membiarkanmu tidur malam ini' ."
"A-aku tidak akan
membiarkanmu tidur malam ini."
“….Ani-kun ecchi.”
Shisei menjeritkan
"Kya" dan menggunakan tangannya untuk menyembunyikan wajahnya.
"Bukankah kamu menyuruhku untuk
mengatakan itu!"
Saito sadar bahwa pipinya
terbakar.
Bahkan jika mereka tumbuh
seperti saudara kandung, masih tidak dapat diterima untuk melakukan hal-hal seperti
ini.
Shisei menggunakan jarinya
untuk menunjuk bibirnya. Tindakannya begitu memikat.
Dia mengarahkan pandangannya
pada Saito, seolah meminta sesuatu.
“Selanjutnya, bibir Shisei…”
“Hya~!?”
Suara seseorang terdengar dari
dekat.
Saito mengangkat wajahnya, dan
melihat Himari berdiri di sana dengan mata melebar.
"Kalian berdua, berada
dalam hubungan semacam itu!?"
"Tidak, ini untuk
latihan—"
Saito mencoba menjelaskan, tapi
Shisei membenarkan kecurigaannya dengan wajah angkuh.
“Kami berada dalam hubungan
semacam itu. Ani-kun mempunyai kebiasaan untuk menggendong Shisei seperti putri
dimanapun kapanpun”
"Berhentilah mencoba
membuat lebih banyak kebingungan!"
Saito mencoba menjatuhkan
Shisei, tetapi dia tidak bisa karena Shisei menempel dengan kuat padanya. Dia
sepenuhnya menggunakan kedua tangan dan kakinya, mengingatkannya pada onbu obe.
“Aku, aku tidak melihat
apa-apa… tapi aku perlu berbicara dengan Akane sedikit!”
"Tunggu! Apa pun selain
itu, tunggu!”
Himari melarikan diri,
sementara Saito menggunakan semua yang dia bisa untuk mengejarnya.
Ketika Saito kembali ke rumah,
Akane sudah berdiri di sana dengan tangan disilangkan.
Dia belum mengganti seragamnya,
dan dia terlihat beberapa kali lebih serius dari biasanya. Dengan kerutan yang
dalam di alisnya, dia menatap Saito dengan mata yang sepertinya bisa menembus
batu.
"Aku, aku pulang."
“……”
Dia juga tetap diam meskipun mendengar
sapaan Saito.
---Luar biasa!
Ini bukan suasana untuk
memberinya gendongan tuan putri.
Tapi suasana di mana jika dia membuat
satu gerakan yang salah akan menyebabkan dia ditinju dan jatuh ke lantai.
Meskipun dia diberi nasihat
oleh Shisei tentang menyerah satu sama lain dan mencoba untuk memahami satu
sama lain, tidak ada celah baginya untuk melakukannya. Satu-satunya hal yang
dia/(Saito) tahu adalah bahwa dia sedang sangat marah.
Dia akan kembali ke kamarnya
dan memikirkan Kembali tentang rencanya. Berpikir seperti itu, ketika dia
melewati Akane,
"Tunggu."
Akane memegang bahu Saito. Sebuah
genggaman yang bahkan dapat menghacurkan tulang.
"Jadi, kamu akhirnya
memutuskan untuk membunuhku!"
"Aku tidak mencoba
membunuhmu!"
"Lalu apa…?"
Dia tidak mengerti apa yang
terjadi, tapi itu jelas bukan itikad baik. Saito sedang mencari jalan untuk
melarikan diri. Dia menyesal mengunci pintu sebelumnya.
Akane terus mencengkeram bahu
Saito dan berbisik dengan suara kecil.
“…..ayo, satu sama lain.”
Note : ini mungkin dia ngomong tapi
gk didenger sama Saito jadinya yang kedengeran cuman sepotong :v
“Eh?”
"Seperti ini! A, ayo
bicara, satu sama lain!”
“….Negosiasi Cerai?”
Saito menelan ludahnya.
"Tidak! Berbicara satu
sama lain, untuk, mempertahankan pernikahan antara aku dan kamu! Aku ingin
berbicara tentang bagaimana kita dapat memiliki kehidupan yang lebih damai!”
Akane menunduk dan menggigit
bibirnya. Tidak yakin apakah dia mencapai batasnya atau tidak, tetapi dia memerah
sampai ke lehernya.
Saito tidak pernah berpikir
bahwa dua kata "hidup damai" akan pernah keluar dari mulut wanita
ini. Sejak mereka bertemu, satu-satunya hal yang mereka lakukan adalah
bertengkar.
“Kamu ingin akrab denganku?”
“B, bukannya aku mau~, tapi
jika keadaan terus seperti ini, cepat atau lambat kita akan bercerai!”
"Ya…. Aku memang merasa
canggung.”
"Benar, kan?
"Pertama, mari kita tenang
dan berbicara satu sama lain."
Jika dia tidak mengatakan itu,
lengannya mungkin tidak akan pernah terlepas.
Keduanya masuk ke ruang tamu.
Akane membuat teh,
menuangkannya ke dalam cangkir kecil dan meletakkannya di piring di atas meja.
Dia juga membawa shortcake stroberi penuh krim. Sepertinya dia membuatnya sendiri.
Dia pasti membuat satu untuk duduk dan berbicara dengannya.
Akane duduk di sebelahnya,
sementara Saito memiliki beberapa pemikiran konyol di kepalanya “Ini terasa
seperti ada guru yang datang ke rumahmu...”. Suasananya aneh, yang membuatnya
memikirkan hal-hal yang tidak relevan.
Akane mencengkeram lututnya
dengan tinjunya.
"Kupikir. Meskipun aku
benar-benar membencimu, tapi kita harus hidup bersama, jadi akan lebih baik
jika kita berdamai.”
“Aku juga merasakan hal yang
sama. Aku juga tidak ingin hidup di neraka.”
“Jadi maksudmu hidup denganku
seperti neraka? Itu tidak sopan.”
"Dan kamu menyiratkan
sesuatu yang lain?"
“Emm…. tidak juga."
Akane dengan kesal melihat ke
bawah.
“Tapi, aku tidak bisa bersantai
dengan adanya dirimu di sini, jadi aku tidak tahu harus berbuat apa….”
"Bagaimana kalau aku
memberikanmu gendongan tuan putri?"
“Huuuuuh? Mengapa kamu ingin
melakukan itu?”
Dia membuat wajah jijik dari
hati nya yang terdalam.
–Yup, tipmu tidak berguna untuk
gadis ini, Shise!
Saito mengeluh kepada saudara
perempuannya yang bijaksana yang memberinya nasihat ini.
Manusia memiliki konsep jarak
perasaan/(rasa), jika mereka tiba-tiba didekati oleh seseorang yang jarak
emosionalnya sangat jauh dari mereka, jelas mereka akan berhati-hati.
Tapi, bagi Akane untuk
menyarankan pembicaraan di antara mereka sendiri, itu adalah peningkatan besar.
Karena pihak lain bersedia berkompromi, Saito juga harus melangkah maju.
“Itu….jadi. Agar stres kita
tidak menumpuk lebih dari ini, bagaimana dengan membuat sebuah aturan?”
“Aturan?”
“Aturan bukanlah hal negatif,
melainkan kesepakatan untuk melayani orang-orang dengan filosofi hidup yang
berbeda. Dengan menarik garis yang jelas antara aku dan kamu yang bisa kita
sepakati, tidak akan ada situasi di mana kita marah lagi, kan?”
"Masuk akal…. Kamu lebih
pintar dari yang aku kira.”
"Tolong berhenti mengejekku
sambil memujiku."
Saito kesal. Dia diejek
meskipun kemampuan akademiknya adalah yang teratas.
“Pertama, mari kita membagi
tugas. Aku punya perasaan sejak pernikahan kita, hanya aku yang pernah
melakukan pekerjaan rumah tangga.”
“Aku berencana untuk membiarkan
mereka menumpuk dan mencuci semuanya sekaligus. Lebih efisien.”
Akane menggebrak meja.
"Jika kamu membiarkannya
menumpuk, serangga akan bersarang disitu!"
"Adanya serangga adalah
hal yang normal di alam."
“Aku tidak ingin hidup di alam!
Jika kamu tidak mencuci barang-barangmu, itu akan dipenuhi bakteri dan akan
menyebabkan penyakit, bahkan jika itu merepotkan, cucilah setiap hari! ”
Akane bersikukuh dengan
kebijakan ini. Dia mencengkeram meja dengan kuat, dan mengancamnya seperti
kucing yang sedang menggeram.
Dia tidak akan menyerah pada
ini, apa pun yang terjadi. Jadi satu-satunya pilihan Saito adalah mundur satu
langkah sehingga mereka bisa melangkah dua langkah ke depan untuk mencapai
gencatan senjata.
"…Baiklah. Aku akan
mencoba mencuci setiap hari. ”
“B-begitukah? Itu bagus kalau
begitu.”
Kata Akane, dengan lega. Dia
pasti berpikir tidak mungkin Saito akan menyerah semudah itu.
"Jadi tentang kamu, apakah
kamu punya permintaan?"
"Jika kamu bersedia
mendengarkan permintaanku ..."
Saito meneteskan air mata.
“Aku akan mendengarkan
permintaan yang adil! Jangan bicara seolah-olah aku orang yang keras kepala!”
'Jika kamu tidak keras kepala
lalu siapa yang keras kepala di sini?'-Saito ingin membalas, tapi ini bukan waktunya
untuk itu. Yang penting sekarang adalah saling memahami, dan memperpendek jarak
hati mereka.
"Bailah... aku ingin kamu
tahan ketika aku menyentuh tubuhmu di tempat tidur."
“Jadi maksudmu kau ingin aku
memaafkan pelecehan seksualmu!? Menyesatkan!"
Wajah Akane memerah. Dia
memeluk tubuhnya, dan gemetar saat membuat jarak dengan Saito.
“Memangnya pelecehan seksual
apa yang dapat terjadi antara suami dan istri! Tempat tidurnya sempit, jadi
tubuh kita tidak sengaja bersentuhan mau tidak mau!”
Akane cemberut.
“Bukankah tidak apa-apa jika
kamu menyusutkan dirimu sendiri? Untuk sekitar 50 cm akan baik-baik saja.”
“’Baik’ apanya sialan!
Pertama-tama aku tidak akan memiliki cukup jari untuk kamu patahkan ketika jariku
tidak sengaja menyentuhmu. Aku hanya memiliki 20 jari tangan dan kaki secara
total. Tolonglah mengerti diriku sesekali.”
Saito memohon dengan semua niat
baiknya.
Ini adalah pertama kalinya dia
memohon seseorang untuk tidak mematahkan jarinya, tapi ada pengalaman pertama
untuk semuanya.
“B, baiklah…. kamu bisa,
menyentuh … tubuhku.”
Akane menyusut seolah berusaha
menyembunyikan rasa malunya.
“T, tapi… hanya di baju. Jika kamu
memasukkan tanganmu ke dalam pakaianku, …. aku tidak akan memaafkanmu…”
"Hah? Mengapa aku
harus?"
"Itu bisa saja terjadi!? Mungkin
saja kamu akan menyentuhku di sana-sini ketika aku sedang tidur.”
“Aku tidak akan! Berhentilah
menuduhku melakukan hal-hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya!”
Melakukan hal itu pada
seseorang yang bisa mematahkan jari seseorang semudah melipat origami adalah
bunuh diri.
“Selanjutnya adalah
permintaanmu. Apa yang kamu punya untukku?"
"Saat kamu sedang bermain
game horor, pasanglah headphone."
Saito terkejut.
“Itu pilihan yang cukup berani
untuk meningkatkan kesan horror dalam game, aku tidak menyangka kamu adalah
tipe orang yang akan bermain tipe game seperti itu dengan headphone… apakah
kamu sebenarnya suka game horror?”
"Aku membencinya! Aku
bahkan tidak ingin melihat cover depannya!”
"Apakah kamu takut?"
“T, tidak seperti itu~,
menurutku itu menjijikkan! Aku tidak bisa berkonsentrasi untuk belajar, ketika mendengarkan
jeritan zombie.”
“Begitukah?”
Akane berdeham.
“Jangan tiba-tiba membuka game
horor saat aku sedang mencuci piring. Itu akan memasuki bidang penglihatanku. ”
"Jadi bagaimana kalau kamu
menutup matamu dan melanjutkan mencucinya?"
“Maka dapur akan menjadi
setting game horor saat aku menjatuhkan piring dan memotong tanganku sendiri!.”
“Ah, eh…. Aku mengerti. Aku
akan memainkannya diam-diam.”
Saito setuju, tapi dia tidak
bisa mengerti.
Saito tidak percaya mitos, jadi
dia hanya menikmati judul horor seperti game aksi sederhana, tapi jika teman
serumahnya tidak nyaman dengan itu, dia akan tahan dengan menggunakan
headphone.
Saito dan Akane membahas lebih
detail tentang kehidupan sehari-hari mereka, seperti membagi tugas dan
memutuskan apa yang dilarang.
Jika mereka dapat membuat
daftar semua hal yang menyebabkan stres pada pihak lain, mereka akan merasa
sedikit lebih dekat satu sama lain.
Untuk seseorang yang
memprioritaskan efisiensi di atas segalanya seperti Saito, Akane adalah orang
yang sensitif dan serius.
Kedua orang itu tidak pernah
bisa menyerah satu sama lain dan sering berkonflik sau sama lain, jadi wajar
apabila mereka merasa bahwa aktivitas mereka terasa berat.
Setelah beberapa jam berbicara
satu sama lain, the di cangkirnya juga sudah habis.
–Ini pasti pertama kalinya aku
berbicara dengan gadis ini untuk waktu yang lama…
Saito berpikir sambil melihat
jam yang tergantung.
Dia adalah teman sekelasnya
sejak hari pertama sekolah menengah, tetapi akan ada pertengkaran atau
perdebatan di antara mereka hanya dengan melihat wajah satu sama lain, mereka
tidak pernah sekalipun bertukar pikiran dengan benar. Itu dikarenakan keduanya
memilih jalan yang berbeda
Tapi, pada hari ini, dua orang
itu berdiskusi demi satu tujuan bersama: “mempertahankan pernikahan mereka”.
Jika mereka memiliki tujuan
bersama ini, tidak akan ada pertengkaran besar di antara mereka lagi.
“Ada hal lain… aku membaca buku
tempo hari, isinya seperti, jika kamu tidak lupa untuk mengungkapkan rasa
terima kasihmu, hubungan manusiamu akan lebih baik.”
"Jadi maksudmu kita harus
saling mengucapkan terima kasih?"
“Meskipun itu hanya hal kecil
ya.”
Jika kamu menganggap tindakan
orang lain sebagai tanggung jawab mereka, maka kamu akan merasa kesal ketika
mereka tidak melakukannya, dan tidak akan merasa puas dengan apa yang telah
mereka lakukan untukmu. Singkatnya, hanya emosi negatif yang akan terkumpul.
Di sisi lain, jika kamu tidak
menganggap remeh hal-hal yang dilakukan orang lain, dan sebaliknya
mengungkapkan rasa terima kasih atas apa pun yang mereka lakukan untukmu, kesan
positif akan terkumpul atau begitulah yang tertulis di buku itu.
"Begitu…"
Akane menyatukan jari
telunjuknya, mengekspresikan kegugupan.
"Kamu telah makan
makananku, jadi katakan itu enak."
Pipinya agak memerah.
Saito mengedipkan matanya.
"Bahkan jika rasanya
biasa-biasa saja?"
"Bahkan jika itu biasa-biasa
saja!"
“Tapi, jika kamu meminta
pendapat jujurku, bukankah itu pujian?”
Akane memelototi Saito.
“Menurutmu berapa lama waktu
yang dibutuhkan untuk membuat makanan? Tidak peduli seberapa keras kamu berusaha
dalam memasak, menyebutnya "oke" membuat antusiasme itu turun.”
Saito ingat Akane marah ketika
dia menyatakan pendapatnya tentang makanannya.
"Bagi saya, 'oke' adalah
pujian ..."
"Hah…? Kenapa
begitu?"
Akane memasang wajah ragu.
“Ah, butuh beberapa saat untuk
menjelaskannya…. Akan memakan waktu sekitar satu jam atau lebih. ”
"Itu terlalu lama!"
Akane menyilangkan tangannya.
"Begitu. Bahkan jika 'oke'
berarti pujian untukmu, bagiku ‘lezat’ adalah pujian! Cobalah untuk mengingat bahasa
Jepangmu!”
"Tapi kanji saya memiliki
skor yang lebih baik darimu?"
“T-tidak relevan! Lagipula kamu
tidak bisa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari yang normal!”
"…Baiklah!"
Dia juga disuruh oleh Shisei
untuk mencoba dan lebih memahami hati seorang gadis.
Saito merekam cara memuji Akane
ke dalam otaknya.
Pembicaraan panjang mereka
akhirnya berakhir.
Akane kelelahan dan berbaring
di tempat tidur.
Tenggorokannya benar-benar
kering, suasana hatinya langsung kacau. Menemukan kesepakatan antara satu sama
lain sama melelahkannya dengan berdebat. Seorang utusan yang berunding untuk
perdamaian pasti juga pernah merasa seperti ini.
Dengan tidak ada energi tersisa
untuk memasak, dia makan roti untuk makan malam. Dia tidak menikmati makanan
yang tidak bergizi, tetapi tidak ada pilihan lain hari ini.
Ada telepon dari Himari, jadi
Akane mengambil smartphone-nya dari atas tempat tidurnya.
"…Halo."
“Yah~. Kamu tidak terlihat
baik-baik saja, apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu akhirnya berteman
dengan orang yang kamu benci? ”
Mendengar suara energik Himari,
dia akhirnya bisa mengendurkan bahunya yang kaku karena stres. Sampai Saito
selesai mandi, inilah waktunya untuk menikmati berbicara dengan temannya.
Akane duduk di tempat tidur
sambil memeluk lututnya.
“Menjadi dekat… aku rasa kita
belum bisa seperti itu.”
“Jadi tidak ada gunanya kalau
begitu~”
“Tapi, kita sekarang bisa
berbicara satu sama lain. Totalnya 5 jam, aku sekarang kelelahan. ”
“Kamu sudah mencoba yang
terbaik! Itu bagus itu bagus!”
Dia dipuji seperti anak kecil.
Tapi karena ini Himari, dia tidak akan marah karenanya.
“Aku mencoba yang terbaik. Aku
bahkan tidak bisa menghitung berapa kali aku ingin menggulingkan meja.”
"Kamu ingin membalik meja
seperti orang-orang tua di era Showa itu!?"
Akane membusungkan dadanya dan
melaporkan dengan bangga.
“Tapi aku menahan diri. Dan aku
bahkan berjanji untuk tidak mematahkan jarinya.”
"Jadi kamu mematahkan jarinya
sebelumnya?!"
"Hampir."
“Jadi seperti itu~ …..”
Himari berbicara seolah kaget.
“Tapi, untuk dapat berbicara
satu sama lain adalah hal yang baik. Itu satu langkah maju.”
“Itu mungkin langkah maju untuk
perang habis-habisan ….”
Akane tidak bisa optimis. Jika
mereka benar-benar bisa berdamai dengan berbicara dengan orang yang dia benci
selama dua tahun terakhir, dia tidak akan merasa begitu menyedihkan seperti
ini.
“Hal seperti itu tidak akan
terjadi. Jika kalian berdua mau berbicara, itu berarti pihak lain juga berusaha
untuk lebih dekat dengan Akane kan? Jika perasaanmu sama, itu akan lancar.”
“Pria itu… ingin lebih dekat
denganku…?”
Dia mengulangi dengan berbisik,
dan tidak tahu mengapa suhu tubuhnya meningkat.
"Apa yang terjadi
selanjutnya tergantung pada upaya kalian berdua."
“Uhm… aku akan berusaha sekuat
tenaga. Mulai sekarang aku akan... membiarkan pria itu menyentuh tubuhku.
Bokongku misalnya, atau payudara.”
"Apa artinya itu!? Tunggu.
Pihak lain adalah seorang gadis kan!? Jelaskan padaku sekarang juga!”
Himari buru-buru bertanya
padanya.
Akane memotong panggilan ketika
mendengar langkah kaki di lorong.
Saito masuk setelah selesai mandi.
Tampaknya dia juga lelah, karena dia tidak membawa bukunya.
Akane mengumpulkan
keberaniannya dan berbaring di tempat tidur.
“I, ini… kau bisa menyentuhku
dimanapun kau mau.”
"Tidak mungkin aku akan
menyentuhmu dengan sengaja!"
Tampaknya dia tidak perlu mempersiapkan dirinya lagi.


